23 Mei 2015

Paper Towns

Sampul
Judul : Kota Kertas
Judul Asli : Paper Towns
Pengarang : John Green
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 18 Mei 2015
Rating : ★★★

Biar aku hitung dulu: The Fault in Our Stars, Looking for Alaska, dan Will Grayson, Will Grayson kalau boleh dihitung. Dengan buku ini, berarti sudah empat buku John Green yang kubaca. Mungkin aku akan terus membaca karya-karyanya, mengingat temanya yang kontemporer dan "sangat remaja". Yah, paling tidak aku akan terus merasa forever young dengan membaca kisah-kisah remaja.

Sejujurnya, aku membaca buku ini karena filmnya yang akan rilis Juli mendatang. Kabarnya kru film Paper Towns masih sama dengan The Fault in Our Stars. Kalau dilihat lagi, film TFIOS bisa dibilang sukses walaupun sedikit melenceng dari novelnya. Yah, tidak bisa dipungkiri novel dan film adalah dua hal yang berbeda. Jadi, supaya tidak merasa kecewa setelah menonton filmnya, aku membaca novelnya lebih dulu.

***

Cerita bermula ketika Quentin Jacobsen dipaksa oleh Margo Roth Spiegelman, teman masa kecilnya, melaksanakan sebuah rencana. Serunya, Margo mengajak Q di tengah malam. Walaupun awalnya Q segan karena besoknya adalah hari sekolah, Margo bersikukuh bahwa malam itu akan menjadi malam yang seru.

Paper Towns (2015)
Keesokan harinya di sekolah Q berharap Margo akan seperti malam itu; tertawa dan melakukan kejailan-kejailan yang membuat hidup lebih bergairah. Tetapi Margo tidak masuk, Margo juga tidak masuk keesokan harinya dan keesokan harinya lagi. Q cemas dan mencoba mencari tahu ke mana Margo sebenarnya. Apa Margo seperti yang Q bayangkan selama ini? Sejauh mana Q tahu tentang diri Margo yang sesungguhnya?

***

Sudah kujelaskan bahwa penulis lihai menilik keseharian remaja masa kini. Dengan segala kompleksitasnya, remaja adalah makhluk yang paling tidak bisa didefinisikan secara rinci. Ada saja hal-hal yang melenceng dari pengertian remaja yang sebenarnya. Anggapan bahwa hari ini remaja A baik dan keesokan harinya masih baik selalu bisa dipatahkan.

Mungkin itu yang disampaikan penulis pada buku ini. Remaja dan kompleksitasnya. Serta pandangan-pandangan mereka terhadap dunia yang mereka hadapi. Kota Kertas? Ya. Margo menilai dunia ini bagai Kota Kertas yang menurutnya adalah tempat yang segala sesuatu di dalamnya palsu dan penuh drama. Semuanya diatur dan dibuat berdasarkan keinginan dan ego yang tak berkesudahan.

Aku sempat merenungkan sejenak tentang apa yang dimaksudkan oleh buku ini. Serius. Penulis benar-benar cerdas menaruh pesan tersirat yang dalam dan jauh sehingga sangat sulit mencarinya. Membiarkan pembaca membuat konklusi sendiri atas kisah pada buku-buku yang dibuatnya.

US Cover
Terjemahannya sangat ringan, membuatku terus membaca. Bahkan aku mencoba mencari kesalahan pengetikan tetapi sangat sedikit. Satu lagi yang membuatku menikmati buku ini adalah humor kentalnya. Hanya saja, sampul bukunya "nggak banget". Ya ampun, aku bahkan masih memikirkan peta dan pin yang sedang dikerjakan Q dan teman-temannya; seperti gambar sampul keluaran US di atas.

“Yang indah dari semua ini adalah: dari sini kau tidak bisa melihat karat atau cat yang retak-retak atau apalah, tapi kau tahu tempat apa itu sebenarnya. Kau mengetahui betapa palsunya semua itu. Tempat itu bahkan tak cukup keras untuk terbuat dari plastik. Itu kota kertas. ... Segala-galanya setipis dan serapuh kertas.” —Margo (hal. 69)

Ulasan ini untuk tantangan Young Adult Reading Challenge 2015.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top