23 November 2017

Kedai 100X Mimpi: Kisah 1001 Malam yang Gagal

Edited by Me

Apa yang kamu ketahui tentang "Kisah 1001 Mimpi"? Aladdin, Sindbad, dan Abu Nawas, adalah beberapa kisah populer di dalamnya. Cerita yang entah siapa pengarangnya ini berasal dari Timur Tengah dengan satu cerita besar yang memiliki cabang cerita-cerita kecil. Lalu, kenapa aku membahas "Kisah 1001 Malam"? Karena judul inilah yang xjadi inspirasi Valiant Budi—yang kemudian mari sebut saja dia Vabyo—untuk dua bukunya yang terkenal itu, "Kedai 1001 Mimpi" dan "Kedai 1002 Mimpi". Setelah membaca "Forgotten Colors", aku berniat untuk mengangkat sosok Vabyo di Jurnal Ruang. Karena masih kurang materi pembahasan, aku memaksa diri untuk baca dua buku itu. Tak dinyana, aku menikmatinya.

Aku sebut "memaksa diri" di atas karena aku memang tidak begitu menggemari buku nonfiksi—seperti yang kuceritakan di sini. Namun, membaca dua karya Vabyo ini seperti sedang menikmati kisah yang dibuat-buat. Bagai dongeng. Banyak hal yang tak terduga sampai bertanya-tanya apa yang dituliskan pada buku ini benar-benar terjadi. Penuh kejutan—terutama tentang bagaimana bervariasinya orang-orang pribumi—maksudnya, penduduk asli—yang ditemui Vabyo di tempat kerjanya. Aku ragu Vabyo akan bisa menceritakan sebanyak ini kalau tidak bekerja di tempat itu dan sebagai posisi itu.

Berlatar Dammam, Arab Saudi, Vabyo bekerja sebagai pelayan sebuah kedai kopi franchise asal Amerika Serikat. Dengan anggapan pekerjaan itu tidak bikin kelelahan sehingga bisa bervakansi ke wilayah lain Timur Tengah, Vabyo menerima tawaran bekerja di sana. Tiba di kedai kopi menggunakan kaos hitam berkerah lalu diminta bersihkan kafe, resmilah Vabyo menjadi seorang pahlawan devisa atau Tenaga Kerja Indonesia. Hari-hari berganti, keseruan-keseruan (maaf, Vabyo, mungkin ini terlalu kasar bagimu, tapi aku melihatnya sebagai keseruan) bergulir di kedai kopi tempatnya kerja. Dan berbulan-bulan kemudian, Vabyo pulang ke Indonesia. Ia menuliskan catatan-catatannya selama di Dammam dan menerbitkan "Kedai 1001 Mimpi".

01 November 2017

Masa Kecil dalam Dua Karya Reda Gaudiamo

Edited by Me

Saat meriset untuk ulasan ini, aku melongo mendapati Reda Gaudiamo adalah personel AriReda yang terkenal menyanyikan puisi itu. Ari - Reda; Reda - Gaudiamo. Betapa seharusnya aku bisa menerka-nerkanya. Aku tidak begitu gandrung dengan AriReda, namun bukan berarti tidak pernah mendengarnya. Keterkejutan bodoh ini buatku mencari tahu lebih lanjut tentang siapa itu AriReda. Mereka sudah terbentuk sejak Oktober 1982. Sudah lebih dari 30 tahun dan mereka bersama dan tetap terus berkarya. Adakah yang mengira mereka suami-istri? Bukan, tentu saja. Mereka hanya dipaksa berduet di acara kampus pada Oktober 1982. Sejak itulah mereka terus bersama—maksudnya bernyanyi bersama—dan terus berkarya sampai kini. Hal terakhir yang kutahu mereka menyenandungkan puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono.


Terima kasih kepada AriReda dan ketidakpekaanku sehingga bisa membuat separagraf pengantar. Mari kembali pada Reda Gaudiamo dan karya-karyanya "yang lain". Reda sudah menerbitkan beberapa buku yang kebanyakan adalah fiksi. Salah dua yang populer—setidaknya di Goodreads—adalah "Na Willa" dan "Aku, Meps, dan Beps". Keduanya diterbitkan secara indie. Yang satu pada 2012, satu lagi pada 2016. Tipikal keduanya: sama-sama cerita anak dari sudut pandang anak perempuan. Dan memang cerita anak menjadi spesialisasi Reda sampai-sampai ia membuka kelas penulisan cerita anak bersama Dewan Kesenian Jakarta beberapa waktu lalu. Yah, itu sudah menegaskannya, kan?

Berbeda dari cerita anak lain, aku melihat ada gaya penulisan khas dan penggunaan diksi yang sedikit "nyastra" dari kedua karyanya. Aku tidak banyak membaca cerita anak dari penulis-penulis lokal memang, tapi beberapa yang sudah kubaca tidak begitu "membekas". Lain dengan dua karya Reda ini, apalagi yang "Na Willa"—di bawah akan kujelaskan kenapa. Kusimpulkan sendiri bahwa karya-karya Reda tidak hanya cocok untuk dibaca anak-anak, tetapi juga cocok untuk para dewasa. Jalan tengahnya: para dewasa membacakannya kepada anak-anak. Ya, memang mirip dongeng namun lebih kontemporer. Mungkin sastra anak memang tepat untuk pengistilahan karya-karya Reda ini. Mungkin keunikan ini jugalah yang membuat Reda memilih untuk menerbitkannya melalui penerbit indie.