22 Desember 2016

Kemenangan Tunggal Sayembara Novel DKJ 2016 Ingatkan Kembali Memori Tahun 2008

Edited by Me

Aku tidak pernah mengantisipasi "Tanah Tabu" sebelumnya. Membelinya hanya karena label 'Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008' yang terpampang pada sampul depan. Sampai pada Minggu lalu Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengumumkan pemenang sayembara yang telah diselenggarakan sejak Juni bertajuk 'Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016'. Lalu, muncullah nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie sebagai pemenang pertama sekaligus pemenang satu-satunya pada tahun ini. Usut punya usut, hal yang sama terjadi pada 2008 yang "Tanah Tabu" dinobatkan sebagai pemenang. Pada tahun itu juga tidak ada pemenang kedua dan ketiga.

Keriuhan kemenangan satu-satunya Ziggy dengan naskahnya yang berjudul "Semua Ikan di Langit" membuat orang-orang bertanya-tanya betapa juri gegabah untuk tidak memilih pemenang kedua dan ketiga. Seperti yang diwartakan Tempo.co, para dewan juri yaitu Bramantio, Seno Gumira Ajidarma, dan Zen Hae beralasan adanya perbedaan mutu yang tajam antara pemenang pertama dan naskah-naskah lainnya. Lalu melalui laman resmi DKJ, dewan juri menjabarkan secara runut pertanggungjawaban terpilihnya satu naskah saja sebagai pemenang. Penjelasan ini tentu memberikan napas lega bagi 300-an pembuat naskah lainnya dan mereka yang bertanya-tanya.

Perbedaan mendasar dari kemenangan "Tanah Tabu"-nya Anindita S. Thayf dan "Semua Ikan di Langit" adalah maraknya pemberitaan yang beredar di media cetak maupun daring. Seperti memberikan gambaran bahwa sekarang ini orang-orang sudah pada melek sastra. Setidaknya melek bacaan yang bagus. Atau melek internet. Yah, pokoknya melek tentang pemberitaan semacam ini lah. Jujur, aku susah mencari artikel seputar kemenangan "Tanah Tabu" melalui mesin pencarian. DKJ pun tidak mewartakan apa pun pada laman resminya tentang kemenangan tunggal "Tanah Tabu". Hanya Wikipedia saja yang memberikan data yang—semoga—benar. Apakah pada 2008 lalu internet masih menjadi hal yang susah digapai? Terkumpulnya rasa penasaran itulah yang membuatku ingin gegas menyelesaikan "Tanah Tabu".

Sebenarnya, fenomena kemenangan tunggal Sayembara Novel DKJ 2016 juga pernah terjadi pada 2012—malah sama persis. Kala itu, "Semusim, dan Semusim Lagi" menjadi jawara tunggal yang diikuti empat naskah lainnya sebagai unggulan. Namun, karena sudah membacanya, aku menyangkutpautkannya dengan "Tanah Tabu" yang belum kujamah. Toh mereka sama-sama pemenang tunggal dan kupikir ini waktu yang tepat untuk mengingat kembali kemenangan pada 2008 lalu melalui kisahnya.


Judul : Tanah Tabu
Pengarang : Anindita S. Thayf
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2015
Dibaca : 18 Desember 2016
Rating : ★★★★

Tidak perlu susah payah untuk menyelesaikan novel yang tidak mencapai 200 halaman ini. Seperti jarang diikutsertakan oleh penulis kebanyakan, pesona alam Papua yang menjadi latar cerita memberikan angin segar dalam kisah Pum, Kwee, Mabel, Mace, dan Leksi. Mungkin latar ini jugalah yang menjadi poin tambahan "Tanah Tabu". Walaupun tidak semuanya, setidaknya ada empat daerah di Papua yang disebutkan oleh penulis yaitu: Lembah Baliem (yang mana luasnya minta ampun), Mindiptana, Manokwari, dan Wamena. Walaupun semuanya terceritakan singkat, setidaknya aku jadi tahu gambaran tentang perbedaannya masing-masing. Seperti Wamena yang lokasinya berada di sekitar Lembah Baliem juga Manokwari sebagai kota pesisir yang lebih maju dan ramai ketimbang Mindiptana. Seolah penulis sempat menapaki jalan-jalan di masing-masing daerah tersebut sebelum menulis kisah ini.

Biar aku jelaskan sedikit tentang siapa itu Pum, Kwee, Mabel, Mace, dan Leksi. Pum adalah sahabat Mabel, mereka telah lama bersama dan tidak pernah terpisahkan. Silakan tertawa akan hal naif seperti itu tapi mereka berdua benar-benar tidak pernah terpisahkan. Kwee selalu mengikuti Leksi ke mana pun bocah perempuan itu pergi sampai suatu saat Leksi harus sekolah dan Kwee tidak boleh ikut. Mace adalah anak menantu Mabel dan ibu Leksi. Jadi, otomatis Leksi adalah cucu Mabel. Lalu, apa peran masing-masing dari mereka?

Oke. Aku coba untuk tidak mengumbar keseruan kala membaca buku ini. Aku yakin keseruan utama dari kisah keluarga kecil ini adalah terkaan narasi siapa sebagai apa. Nah, kalimat sebelum ini sebenarnya sudah sedikit kelewat batas, tapi mau bagaimana? Toh aku hanya coba untuk menjawab pertanyaan di atas. Pum pencerita ulung. Ia bisa bercerita satu bab penuh tentang Mabel dan masa lalunya yang tragis dan membuatnya jadi manusia yang bengis namun tetap manis. Ya, aku yakin itu peran Pum pada kisah ini. Juga Kwee, sebenarnya. Hanya saja, Kwee masih terlalu belia untuk melihat segala hal dengan bijak. Ia akan menceritakan apa yang dialaminya melalui kacamata mudanya sendiri dan maka itu aku tidak begitu percaya dengan apa yang dikatakannya.

"Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan—jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata—mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia." (hal. 131)

Lalu ada Mabel, Mace, dan Leksi. Tiga generasi yang tinggal berbarengan dan coba menjual apa pun agar sintas. Mabel yang sudah tua rela banting tulang bekerja apa saja untuk membiayai sekolah Leksi dan memenuhi semua kebutuhannya. Mace akan membantu dengan berjualan hasil kebun mereka. Harapan mereka hanya satu: Leksi. Mace berharap anak perempuannya itu tumbuh menjadi seorang gadis yang bernasib baik dan terpelajar. Yah, untungnya mereka punya harapan dan tujuan. Setidaknya mereka akan berkorban agar harapan dan tujuan itu tercapai.

Seusai membacanya, aku menyadari bahwa makna buku ini sungguh sederhana. Yang aku terima adalah bahwa wanita bukan lagi harus tunduk kepada para pria. Wanita harus bangkit dari keterpurukannya. Wanita harus kuat berdiri di atas kakinya sendiri. Aku ingat ketika teman Leksi, Yosi, bercerita tentang keganasan ayahnya. Ayahnya menyerang mamanya hingga suatu ketika keguguran. Saat itulah mereka sadar bahwa laki-laki itu tidak tepat menjadi kepala keluarga. Yosi geram. Mamanya naik pitam. Namun, Mabel yang sudah tahu asam garam, hanya berdeham.

Buku ini ringan namun sangat naratif. Paragraf yang dibawakan penulis mengalir dan bertempo cepat sehingga siapa pun yang membacanya tidak akan bosan dengan paragraf-paragraf panjangnya. Lalu, ada banyak pengetahuan tentang Papua yang bisa ditemukan dari buku ini! Dari adat-istiadat suku Komen, sampai konflik yang terjadi setelah dunia tahu kilau emas masif tertimbun di tanah itu; tanah yang tabu bagi sebagian orang terutama penduduk asli. Aku yakin hal yang berkenaan dengan Papua inilah yang menjadikan buku ini sebagai pemenang pertama sayembara. Dan, bersiaplah dengan akhir cerita yang sungguh menyesakkan dan membuatmu teriak dalam hati. Miris dan tragis.

"Mimpi buruk adalah ketika kau menemukan dirimu berada di tengah kenyataan yang tidak menyediakan tempat untukmu bersembunyi dan melarikan diri dari keburukannya." (hal. 178)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top