18 Maret 2014

Kisah Eks-Tapol

Sampul
Judul : Pulang
Pengarang : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun : 2012
Dibaca : 15 Maret 2014
Rating : ★★

Sebelumnya, Sudah aku bilang kalau novel fiksi-sejarah memiliki nafsunya sendiri; punya gayanya sendiri hingga pembaca dibawa hanyut dalam keindahan masa-masa lalu di suatu tempat dengan segala masalah atau solusi yang sudah termaktub di masa itu. Begitu juga dengan novel ini; yang telah membuat air mataku mengalir karena akhir cerita yang ... emm ....

Bertanda-tangan sang penulis
Bedanya novel ini dengan novel fiksi-sejarah lain yang sudah (baru sedikit) aku baca adalah novel ini bagai benar-benar hidup dan sejarah itu persis terjadi seperti tercerita di novel ini. Ya. Novel ini berlatar di dua sejarah besar di Indonesia: 30 September 1965 dan Mei 1998; satu sejarah yang mungkin juga besar di Perancis sana: Mei 1968.

“Tak terasa kami sudah berada di depan arena proyek Monumen Nasional yang masih berantakan karena belum selesai dibangun. Aku sendiri tak tahu kapan monumen ini akan selesai.” (hal. 42)

Sangat kental dengan nuansa pada jaman itu, dengan penggambaran latar yang begitu dalam dan terasa nyata. Selain itu, karakter tokohnya kuat, jadi kita serasa mengenal tokoh-tokoh tersebut secara mendalam. Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam.

***

Ceritanya sangat panjang dan rumit. Tapi seperti itulah novel. Dimulai dari seorang lelaki berumur dua-puluh tahunan yang hidup di tahun 1968 bernama Dimas Suryo. Seorang yang tidak memilih ideologi yang sangat penting pada waktu itu. Dia menceritakan dirinya bisa sampai di Paris. Bagaimana kehidupan dia sebelumnya. Bagaimana kisah ketika dia masih di bangku kuliah dan bercinta monyet dengan Surti. Bagaimana dia menjadi tahanan politik (tapol) yang luntang-lantung pergi dari satu negara ke negara lainnya. Bagaimana kehidupannya setelah itu di Paris bersama gadis cantik asli negeri Eiffel bernama Vivienne. Dan bagaimana dia bisa hidup di kota mode dunia itu. Ah, sepertinya hidup Dimas begitu pelik.

Paris That Day!
“Tentu saja bukan eksil politik jika tidak ada gangguan sehari-hari. Paspor dicabut, berpindah negara, berpindah kota, berubah pekerjaan, berubah keluarga...segalanya terjadi tanpa rencana. Semua terjadi sembari kami terengah-engah berburu identitas seperti ruh yang mengejar-ngejar tubuhnya sendiri.” (hal. 122)

Di bagian kedua, setelah berganti generasi, anak Dimas Suryo, Lintang Utara mengutarakan ceritanya. Dengan gagasan dosennya untuk membuat tugas akhir film dokumenter tentang sejarah Indonesia, membawa Lintang pergi ke negeri yang baru pertama kali ia pijak, I.N.D.O.N.E.S.I.A. Bagaimana pergulatan batin seorang anak dari eks-tapol yang tak boleh kembali ke Tanah Air membuat ceritanya semakin menegangkan. Bagaimana Lintang bisa mencapai Indonesia dengan embel-embel “Suryo” di belakang namanya?

Jakarta, 1998
Terakhir adalah Segara Alam, anak lelaki asli Indonesia dari pasangan Hananto Prawiro dan Surti Anandari. Bagaimana bisa mereka punya anak? Bukankah dahulu Dimas dan Surti pernah memadu kasih? Lalu siapa Hananto? Begitulah Segara Alam, setelah Hananto ditangkap dan dibunuh, hidupnya bergantung pada belas kasih orang lain hingga ia bisa kuliah di Fakultas Hukum UI. Pada akhirnya Alam membantu Lintang mencari narasumber sebagai bahan pembuatan film dokumenternya. Dan di akhir cerita, Alam yakin bahwa Lintang-lah cintanya. Tapi, bukankah cinta yang memilih?

***

Aku tahu... Aku tahu... Ulasan ini sedikit berantakan, saking bagusnya cerita, aku hampir ingin menuangkan semuanya di ulasan ini. Tapi itu tidak etis. Jadi, bacalah! Aku sangat ingin kalian tahu tentang sejarah Indonesia dari sisi eks-tapol berdekade-dekade lalu. Aku yakin dan itu pasti, penulis sudah melakukan riset dan bertanya kepada banyak narasumber supaya novel ini tidak asal-asalan dalam bercerita. Karena ceritanya memang seperti fakta yang ada. Bukankah bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah?

Tentu saja ini tetap novel. Ada drama dan kisah cinta yang begitu menggairahkan sehingga kita terbawa nafsu untuk terus mengakhirinya. Selain itu juga banyak cerita pewayangan dan sastra klasik. Tokoh pewayangan Bima dan Ekalaya menjadi bahan utama yang merepresentasikan seorang Dimas Suryo. Dan berbagai puisi dan syair juga termaktub di dalamnya. Lengkap!

“Dimas, ingatkah kau pembicaraan kita tentang suatu ‘gelembung kosong’ di dalam kita, yang diisi hanya oleh kau dan Dia, untuk sebuah Persatuan antara kita dan Dia yang tak bisa diganggu oleh apa pun barang seusapan. Inilah saat yang tepat untukmu untuk melihat sepetak kecil dalam tubuhmu itu. Sendirian. Berbincang, jika kau ingin. Atau diam, jika kau ingin. Dia mendengarkan. Selalu mendengarkan.” - Moh. Amir Jayadi (hal. 251)

***

Glosarium:
Cimetière du Père-Lachaise, (English: Père Lachaise Cemetery) pekuburan terbesar yang ada di kota Paris dan sekitarnya; menjadi pekuburan taman pertama sebagai tempat tujuan wisata.


Père-Lachaise
Merde, sialan (French).
Flâneur, sepatu kasual (French).
Borjuasi, golongan masyarakat yg penghasilannya melebihi penghasilan rata-rata rakyat biasa; golongan menengah ke atas.
Camaraderie, persahabatan (English).
Virtuous, berbudi luhur (English).

5 komentar :

  1. ingin pulang ke mana kau raf?

    BalasHapus
  2. Halo, kebetulan saya lagi melintang di bagian Lintang Utara lho, baca resensi ini jadi tahu bakal ada bagian selanjutnya hehehe :) saya setuju dengan opini: "saking bagusnya cerita, aku hampir ingin menuangkan semuanya di ulasan ini." Memang ceritanya apik tenan sih, baru baca halaman pertama saja langsung pengin baca yang selanjutnya, walaupun topiknya berat, tapi saya sangat suka dng gaya bahasa Leila S. Chudori dalam membuat permainan diksi dalam sebuah kalimat menjadi sangat unik dan tak pernah dijumpai selanjutnya.

    Resensi yang bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Aku setuju! Awalnya aku juga beranggapan novel ini bakal kayak novel lainnya yang mendayu-dayu dalam pembawaan diksi. Apalagi melihat penulisnya perempuan, yang aku selalu beranggapan kalau penulis perempuan itu lebih ke emosi dan ego serta perasaan yang ditonjolkan. Dan itu sungguh membosankan.

      Terima kasih, sekali lagi. Baca resensi yang lain juga ya. Hehehe.

      Hapus
  3. One of the best Indonesian book i've ever read! Baca berkali-kali pun nggak bosan. Terlalu banyak kalimat menarik dalam buku ini.

    BalasHapus

Back to Top