02 Februari 2016

Ulasan Buku: Student Hidjo

Sampul
Judul : Student Hidjo
Pengarang : Mas Marco Kartodikromo
Penerbit : Narasi
Tahun : 2010
Dibaca : 25 Januari 2016
Rating : ★★★

Seharusnya aku malu dengan postingan ulasan kali ini. Malu karena resolusi tahun 2016 yang diekspektasikan tidak berjalan sesuai rencana. Seperti kebanyakan orang, aku juga membuat resolusi setiap pergantian tahun. Salah satu poin pada tahun ini adalah tidak membeli buku. Terlihat muluk tetapi beralasan: aku memiliki 60 lebih buku yang belum dibaca atau mari kita sebut sebagai timbunan. Hal yang sungguh mengusik kedamaian hidup.

Semua berubah setelah hidupku memasuki hari kedua tahun 2016. Aku ingat betul waktu itu aku sedang melancong di Bandung bersama Anastasia @ Jane and Her Bookienary dan berakhir di Gramedia Merdeka. Sialnya, ada bazar buku dengan harga miring di sana. Siapa yang tidak tergiur? "Student Hidjo" menjadi satu dari tiga buku yang pertama kali dibeli tahun ini. Aku bahkan mengabadikan momen memalukan ini via twitter.


Di sisi lain, aku bangga dan bahagia bisa membeli tiga buku terbitan Penerbit Narasi di atas. Ketiganya buku klasik dan memang sangat ingin aku baca. Dan yang paling bikin penasaran adalah "Student Hidjo" karena merupakan karya klasik tanah air yang gaungnya tidak terlalu bising dibandingkan dengan karya-karya klasik lainnya. Mari kita cari tahu.

***

Remaja pria bernama Hidjo yang cerdas dan memiliki wajah tampan ini akan dikirim oleh sang ayah ke Negeri Belanda untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Akan tetapi niatan sang ayah kepada Hidjo yang merupakan anak semata wayang itu ditentang oleh sang ibu. Berkali-kali sang ibu meminta sang ayah mengurungkan niatnya. Pertimbangan seperti akan menjadi anak nakal dan main perempuan adalah hal yang utama. Terlebih Hidjo sudah memiliki calon istri yang merupakan sepupunya sendiri.

***

Buku ini ternyata diambil dari cerita bersambung di "Harian Sinar Hindia" pada 1918. Lalu pada tahun berikutnya diterbitkan sebagai buku. Aku bertanya-tanya bagaimana bisa pada masa penjajahan ada sebuah koran. Siapa yang memberikan modal? Siapa yang memproduksi? Apakah orang-orang pribumi dikerjapaksakan untuk memperbanyak koran itu seperti kerja rodi membuat jalan Anyer-Panarukan?

Cerita tentang Hidjo yang menempuh pendidikan di Negeri Belanda ini memiliki plot yang sederhana namun menyentil pembaca. Kisah tentang penduduk "beruntung" pribumi yang bisa mengenyam pendidikan pada masa penjajahan dahulu mungkin menjadi ide utama. Tentang godaan perempuan bagi anak-anak Jawa yang belajar di Negeri Belanda.

Yang membuatku tersentil adalah bagaimana Hidjo menjalani hari-harinya di Negeri Belanda apalagi setelah bertemu Betje, anak gadis pemilik rumah yang ditumpangi oleh Hidjo. Bagaimana Hidjo terlalu baik hingga menuruti semua kemauan Betje, hingga akhirnya ia menyadari bahwa hidupnya di Negeri Belanda adalah untuk menuntut ilmu.

Penulis, Mas Marco Kartodikromo, Bersama Istri
Kisah romansa Raden Ajeng Biroe yang ditinggal Hidjo ke negeri jauh pun menjadi perhatian. Bagaimana ia bergulat dengan hatinya dalam hubungan jarak jauhnya. Saat ketika ia bertemu pertama kali dengan Wardojo dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Lalu, bagaimana dengan perjodohan antara Hidjo dengan Raden Ajeng Biroe?

Aku terkagum-kagum pada cuplikan-cuplikan surat dalam buku ini yang masih menggunakan ketikan jaman doeloe dan gaya bahasa yang juga jaman doeloe yang sedikit kurang dipahami. Walaupun sempat terbata-bata membacanya, bahkan sampai bersuara, tetapi sensasinya memberikan pengalaman baru.

"Dari sebab ini soerat terlaloe pandjang, terpaksa saja koentjilkan, sebab saja koetir, kaloe saja tjerita lebih pandjang lagi, Toean tidak soeka membatjanja. Barangkali besoek pagi lagi, Toean poenja famili kembali poelang ke Solo. Saja harap kalau Toean ada tempo jang tidak Toean pakai boeat beladjar, soepaja Toean memberi kabar tentang keadaan di sini." (hal. 69)


Ulasan ini untuk Posting Bareng BBI 2016 bulan Januari bertema #BBIFirstBookShopping.

1 komentar :

  1. Woah, raafi baca student hidjo!!! Iya sekarang ada cetulnya yaa, dulu nyari susah bener. Pas baca tuh bukunya udh menguning, lusuh, udah kayak buku zaman dulu banget. Buku ini bagus! Apalagi kita bisa liat hubungan belanda dg orang-orang yg punya kedudukan, tentang gimana para pribumi kepengaruh sekaligus menolak gaya barat. Buku ini kurang panjang ceritanya

    BalasHapus

Back to Top