05 Juni 2015

Indonesia by Peter van Dongen

Sampul
Pengarang : Peter van Dongen
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 30 Mei 2015
Rating : ★★★

"Makassar, mutiara dari timur, katanya. Dan memang benar. Tidak kotor seperti Batavia. Indah, menawan hati, apa saja bisa dibeli." (hal. 105)

Kalian harus tahu kalau buku ini begitu lebar dan panjang. Aku sampai susah memegangnya ketika membaca. Tapi karena bukunya hanya 150-an halaman dan adalah novel grafis, tidak perlu lama-lama menahan beban buku yang juga berat ini, akhirnya.

Sebenarnya aku tidak ada niatan dari awal membaca buku ini. Akhir tahun lalu, kalau tidak salah, ketika buku ini terbit, aku berpikir bahwa buku ini dikhususkan bagi sejarawan yang sangat ingin melihat Indonesia dari mata penulis luar negeri atau nasionalis yang sangat ingin mengulik seberapa orang luar negeri tahu tentang Indonesia.

***

Cerita bermula ketika seorang kelahiran Selebes yang sudah tinggal lama di Belanda kembali ke Indonesia. Johan Knevel, namanya. Sebenarnya kepulangan Knevel hanya didasari Indonesia yang sudah merdeka pada waktu itu sehingga dia bisa bebas menapak kembali Indonesia dengan semangat patroitisme. Tapi selama perjalanan kembali, dia selalu diingatkan pada Ninih, pengasuh masa kecilnya dulu.

Knevel dianggap komunis karena menyamar sebagai seorang yang hilang yang memang sudah dicap komunis sejak lama—sengaja tidak sebut nama. Knevel kucing-kucingan dengan sisa-sisa tentara Belanda yang masih "nongkrong" di Indonesia, hingga dia sampai di Selebes, tanah kelahirannya. Apakah Knevel akan menemukan Ninih?

***

Karena tuntutan event bersama penulis yang rencananya akan diadakan beberapa hari ke depan, akhirnya aku membaca buku ini. Aku awalnya bertanya-tanya apakah ini termasuk fiksi-sejarah atau bukan. Dari cerita yang dituturkan di dalamnya—bahwa latar waktu pada buku ini sekitar 1945 hingga 1950 atas pasca-sejarah—aku kategorikan buku ini fiski-sejarah.


The Masterpiece
Ceritanya menarik. Akhir ceritanya pun mengesankan. Hanya saja, terkadang aku susah fokus pada cerita pada novel bergambar. Begini, ketika kau sedang asyik membaca sembari membayangkan deskripsi cerita, tiba-tiba kau diharuskan untuk melihat gambar yang juga krusial untuk kelanjutan isi cerita, bagaimana perasaanmu? Mungkin aku hanya tidak terlalu novel bergambar. Kurang maksimal berimajinasi.

Perbedaan ilustrasi orang "bule" dan orang pribumi terlihat jelas. Mungkin doktrin orang pribumi berhidung pesek dan berbibir tebal sudah bercokol dalam pikiran penulis. Aku sedikit kurang sreg. Entahlah. Mungkin aku terlalu baper. Kalian tahu baper?


***

Terlepas dari hal-hal baper di atas, aku penasaran bagaimana penulis tahu seluk-beluk Indonesia bahkan bisa menggambarkannya seperti kutipan di bagian atas ulasan ini. Kalau mau tahu jawabannya, yuk ikutan talkshow-nya! Sampai jumpa di acara BBI yang bekerja sama dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama!

2 komentar :

  1. Aku baru baca Rampokan bro.

    Kurang lebih hampir sama seperti yang Raafi tulis diatas :)

    BalasHapus

Back to Top