15 Juni 2015

Charlie and the Chocolate Factory

Sampul
Judul : Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib
Judul Asli : Charlie and the Chocolate Factory (Charlie Bucket, #1)
Pengarang : Roald Dahl
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2010
Dibaca : 15 Juni 2015
Rating : ★★★★

"Jadi tolong, oh tolonglah, kami meminta, kami berdoa, pesawat televisimu buang saja, dan sebagai gantinya kau bisa memasang sebuah rak buku indah yang panjang, lalu penuhi raknya dengan banyak buku," (hal. 183)

Buku ketujuh penulis yang kubaca. Enam buku sebelumnya sudah kubaca dengan urutan dari yang tertipis dalam boxset Roald Dahl yang kubeli Maret lalu. Senang rasanya berkenalan dengan karya-karya Roald Dahl yang merupakan penulis anak-anak paling terkenal. Filmnya yang diadaptasi dari buku ini dibuat dua kali pada 1971 dan 2005.

***

Charlie Bucket terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Dia tinggal bersama kedua orangtuanya, kakek dan nenek dari ibunya, dan kakek dan nenek dari ayahnya. Hanya ada dua ruangan di rumah Mr. Bucket: ruangan berkasur untuk tidur keempat kakek-nenek Charlie dan ruangan tak berkasur untuk tidak Charlie dan ayah-ibunya.

Charlie sangat menyukai cokelat buatan Mr. Willy Wonka. Pada suatu hari ada ajang "Tiket Emas". Bagi lima anak yang beruntung mendapatkannya di dalam cokelat Mr. Willy Wonka, mereka berhak masuk ke pabrik cokelat yang belum pernah ada seorang pun masuk ke dalamnya. Apakah Charlie menjadi salah satu anak yang beruntung itu?

***

Cerita singkat di atas terlihat hidup Charlie biasa-biasa saja. Tapi sebenarnya Charlie harus menahan diri memakan cokelat Mr. Willy Wonka karena bahkan untuk makan sehari-hari pun susah. Charlie hanya bisa makan cokelat pada saat ulang tahunnya. Ayahnya hanya bisa menyisihkan satu-dua perak penghasilannya sebagai buruh pasang tutup pasta gigi untuk membeli cokelat kesukaan Charlie setahun sekali.

Willy Wonka & the Chocolate Factory (1971)
Keseruan dimulai ketika kelima anak mendapatkan Tiket Emas dan masuk pabrik Mr. Wonka. Hampir semua anak beruntung itu memiliki "kebandelan" masing-masing. Ada yang suka mengunyah permen karet. Ada yang gemuk dan suka makan. Ada juga yang suka menonton televisi.

Keseruan berlanjut ketika Mr. Wonka mengenalkan mereka dengan Oompa-Loompa. Makhluk mini yang selama ini bekerja membantu Mr. Wonka membuat cokelat-cokelat ajaibnya. Sebagian dari kalian mungkin sudah menonton filmnya, tapi aku tidak yakin Oompa-Loompa yang kalian tonton itu sama dengan Oompa-Loompa yang digambarkan dalam buku.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari buku ini. Dari kisah hidup Charlie yang menyedihkan dan usahanya memanfaatkan kesempatan untuk mewujudkan keinginannya, hingga perilaku anak-anak bandel yang kena batunya. Bagian yang aku suka adalah ketika para Oompa-Loompa yang suka menyanyi itu bertutur tentang buku—dan teknologi.

"Aku sama sekali tak menginginkan orang dewasa. Orang dewasa tak mau mendengar ajaranku; ia tak mau belajar. Ia akan mencoba melakukan caranya sendiri dan bukan caraku. Jadi, aku harus mencari seorang anak." —Mr. Wonka (hal. 195)

Ulasan karya-karya Roald Dahl yang kubaca sebelum ini:

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top