29 Oktober 2019

Joker, Kesehatan Mental, dan Bahaya yang Perlu Diantisipasi

Edited by Me

Beberapa waktu lalu, sebuah video anak-anak dikejar oleh semacam ondel-ondel viral di Twitter. Video berdurasi 14 detik itu memperlihatkan sosok hitam besar menggunakan topeng dan berpostur seperti ondel-ondel mengejar anak-anak di sebuah lapangan. Semakin lama, sosok itu hanya mengejar seorang anak perempuan yang berlari ketakutan menghidarinya. Mungkin orang yang menggerakkan sosok itu tahu dan sengaja memburu si anak perempuan. Anak perempuan itu bisa saja akan merasa trauma bila melihat sosok serupa saat dewasa nanti—seperti temanku yang akan menghindar dan memalingkan muka saat ada ondel-ondel lewat. Bahkan temanku itu sudah merasa waswas ketika musik pengiring ondel-ondel samar-samar terdengar olehnya. Pernah saat kami makan di sebuah kedai kaki lima, sesosok ondel-ondel datang dan entah dia tahu dari mana kalau temanku takut padanya, si ondel-ondel malah sengaja berlama-lama di dekat temanku. Aku tergelak sambil meminta si ondel-ondel itu enyah. 

Ondel-ondel adalah sosok yang tidak jelas—memiliki badan besar, lengan yang letoi, serta kepala besar dengan raut muka yang tegas tapi tanpa ekspresi. Rambutnya pun kaku dan helaiannya bisa dihitung jari. Sekilas ondel-ondel memang tampak seperti manusia biasa tapi keanehan, bahkan kengerian bagi sebagian orang, terlihat jelas pada postur tubuhnya. Begitu pula dengan badut yang punya kemiripan serupa. Posturnya sih manusia biasa, tapi mukanya tidak bisa ditebak karena penuh dengan warna yang tidak umum. Hal itu membuat beberapa orang yang melihatnya bingung dan merasa terancam. Belum lagi persona badut yang sudah dieksploitasi oleh Hollywood sejak lama. Kemunculan Pennywise dan Joker memperparah anggapan bahwa badut itu aneh dan mengerikan. Seorang profesor bernama Frank T. McAndrew membeberkan teorinya tentang kenapa orang-orang takut pada sosok yang tidak jelas seperti badut (juga ondel-ondel). McAndrew menulis, “… Rasa ngeri adalah respons terhadap ancaman yang ambigu dan kita hanya merasa ngeri kalau kita menghadapi ancaman yang tidak jelas.”

Sebagai netizen baik, aku bisa bilang bahwa Oktober 2019 ini adalah bulan yang sibuk dengan isu kesehatan mental. Ini bermula dari film Joker dibintangi oleh Joaquin Phoenix yang tayang sejak awal bulan dan membuat semua orang di dunia maya berlomba-lomba memberikan ulasannya yang menyerempet ke mentalitas si Joker itu sendiri. Hampir setiap media daring mainstream mengulas film yang rilis pertama di Indonesia pada 2 Oktober itu dari berbagai sudut pandang. Ada yang menulisnya secara mendalam seperti di Tirto.id dan ada yang mengulasnya dari kacamata orang tua dan psikolog anak seperti Kumparan. Seorang teman dokter mengulas film tersebut dari segi medisnya di sini. Di media sosial seperti Twitter malah lebih riuh lagi. Netizen berlomba-lomba menyampaikan pendapatnya akan film Joker dengan utas terbaik mereka—termasuk aku. Beberapa figur publik seperti Fiersa Besari dan Awkarin pun tak ketinggalan. Selain Joker, kasus bunuh diri seorang artis K-pop Sulli menambah api dalam sekam pembahasan isu kesehatan mental.

Film Joker / © 2018 Warner Bros. Entertainment Inc. All Rights Reserved

Dalam permainan kartu, joker adalah kartu cadangan yang kadang diikutsertakan dan kadang tidak—tergantung pada permainan yang sedang diinginkan. Kartu joker kerap bergambar badut dengan muka putih dan hidung merah serta mengenakan pakaian yang meriah. Kartu joker sesekali bebas dan bernilai tinggi tapi sering kali tidak begitu penting sehingga bila ia tidak ada pun permainan masih bisa berlangsung. Deskripsi kartu joker itu sepertinya bisa juga disematkan juga pada Arthur Fleck (diperankan oleh Joaquin Phoenix) dalam film Joker. Arthur bekerja sebagai penggembira di sebuah toko elektronik yang mengenakan kostum badut dan harus tampak ceria sehingga orang-orang yang lewat tertarik untuk masuk ke toko itu. Sayangnya, yang terlihat berbeda dengan yang tak kasatmata. Arthur yang bercita-cita menjadi pelawak tunggal itu punya gangguan mental yang membuatnya tidak bisa mengontrol ketawanya. Walaupun Arthur selalu membawa kartu penjelasan kondisinya, orang-orang kerap menyalahartikan dan benci padanya. Rekan kerja sesama penggembira pun memandangnya aneh.

Butuh dua kali menonton bagiku untuk memahami perkembangan karakter Arthur Fleck dari yang tadinya baik sampai akhirnya buruk. Arthur mencoba dan terus mencoba untuk berbuat baik kepada orang-orang di sekitarnya: tidak menuntut anak-anak brengsek yang merundungnya, menilik kotak pos setiap pulang bekerja untuk sang ibu, menghibur seorang anak yang sedang cemberut. Hingga pada satu titik Arthur merasa lelah untuk menerima keadaan dan melontarkan peluru dari pistolnya pada tiga pria yang merisaknya di kereta bawah tanah. Kejadian-kejadian tak terduga dan menyakitkan berikutnya membuat Arthur berubah secara drastis. Dari kondisi Arthur tersebut, netizen berpendapat bahwa “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”—yang sebetulnya ada benarnya juga.

Yang paling kentara dari perubahan Arthur adalah betapa orang-orang menganggap remeh dirinya yang punya gangguan mental. Mereka menuntut Arthur untuk bersikap normal dan, bila tidak, mereka akan mengabaikannya. Merasa tidak asing? Sepertinya memang begitu. Saat seseorang berkata bahwa ia merasa depresi, orang-orang akan merespons bahwa dirinya berlebihan dan kurang ibadah. Mereka pikir mendekatkan diri kepada Tuhan bisa menghilangkan gangguan mental yang dirasakan oleh seseorang? Tentu tidak! Butuh bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater untuk membantunya. Amat wajar jika dalam jurnalnya, Arthur mencatat, “The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t.” Inilah sisi positif dari film Joker gubahan Todd Phillips: Memberikan pemahaman akan kesehatan mental. Sutradara Michael Moore bahkan menilai Joker adalah “an important movie for an important time.”

Bahaya Joker yang Perlu Diantisipasi

Namun, yang perlu diperhatikan lebih jauh dari Joker adalah konstruksi sosial tentang penderita kesehatan mental. Stigma tentang seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan melakukan tindakan kriminal seperti tergambar jelas pada tokoh Arthur. Psikiater sekaligus selebtwit dr. Jiemi Ardian menilai bahwa film ini memiliki bagian yang berbahaya. “Joker menguatkan stigma yang sudah di masyarakat tentang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) = berbahaya,” cuit sang dokter. Ia pun menjelaskan bahwa ada beberapa pengidap gangguan mental yang berisiko melakukan kekerasan. Namun, dalam riset yang disertakan dalam utasnya, dr. Jiemi menyampaikan bahwa hanya 4 dari 100 kejahatan yang dilakukan oleh ODGJ. Sebuah artikel dari The Guardian berjudul “Why Joker's depiction of mental illness is dangerously misinformed” punya pandangan yang sama.    

“Salah satu ide yang lebih toksik dari Joker adalah hubungan klise antara gangguan mental serius dan kekerasan ekstrem. Gagasan bahwa kemunduran mental yang mengarah pada kekerasan terhadap orang lain—yang diimplikasikan pada karakter Arthur saat menghentikan pengobatannya dengan tindakan kekerasan yang semakin sering terjadi—tidak hanya salah informasi tetapi juga memperkuat stigma dan rasa takut,” dikutip dan diterjemahkan dari The Guardian.


Aku tahu bahwa film Joker yang ini punya cerita yang orisinal. Menonton Joker membuatku ingin membaca literatur yang berhubungan dengannya. Setelah mengulik di halaman pencarian, ada sebuah artikel yang merekomendasikan komik-komik tentang Joker yang perlu dibaca setelah menonton filmnya. Aku memutuskan untuk membeli e-book Batman: The Killing Joke karya Alan Moore dan Brian Bolland di Kindle. Seperti yang sudah kuduga, Joker di komik dan di film adalah dua persona yang berbeda. Namun, keduanya masih memiliki karakteristik serupa. Di antaranya adalah keduanya sama-sama menjadi kriminal dengan latar belakang yang menyedihkan. Dan ternyata komik “Batman: The Killing Joke” menjadi awal-mula sutradara Todd Phillips membentuk karakter Joker-nya sendiri.

“Saya pikir itu ada di (komik tahun 1988) ‘The Killing Joke’ yang Joker mengatakan, ‘Aku memilih masa laluku menjadi banyak pilihan.’ Yang hebat tentang Joker adalah dia natarot yang tak bisa diandalkan, dan dia tidak punya cerita asal. Jadi, kami menimbang dan memilih sedikit dari beberapa komik dan beberapa dari masa lalunya tentang apa yang akan kami gunakan, tetapi benar-benar ada kebebasan akan hal itu. Itulah yang melegakan. Mereka yang di DC Comics mengatakan, ‘Anda dapat melakukan apa yang Anda inginkan. Ambillah kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda.’ Ide sebenarnya adalah tentang melakukan studi karakter yang mendalam tentang Joker,” ujar Todd Phillips dikutip lalu diterjemahkan dari The Patriot Ledger.

Akhir kata, film Joker sukses menjadi penggerak dalam memantik diskusi soal kesehatan mental. Diharapkan, dengan banyaknya orang yang menonton film ini, isu kesehatan mental di sekitar kita semakin dapat diperhatikan. Hanya saja, perlu pemahaman lebih dalam soal dampak negatif film ini—jangan ditelan bulat-bulat. Stigma buruk tentang gangguan mental pasti akan selalu ada, tapi setidaknya sedikit demi sedikit bisa terpatahkan. Membaca komiknya adalah rekreasi yang diperlukan bila memang ingin melihat sisi lain dari seorang Joker.

1 komentar :