20 Oktober 2016

5 Hal dari Steal Like an Artist yang (Mungkin) Bisa Mengubah Hidupmu


Aku penasaran, apa yang kamu harap dapatkan dari setiap buku pengembangan diri yang kamu baca. Sebuah perubahan drastis yang akan membuatmu lebih baik atau hanya sebagai penyemangat hidup? Dari data yang kutemukan dalam sebuah riset, 51% partisipan membaca buku pengembangan diri karena keinginan untuk bertransisi yang langsung berdampak pada kehidupan mereka. Transisi di sini dibagi menjadi empat tipe yaitu: karier, hubungan, kesehatan atau kesejahteraan, dan kombinasi dari semua tipe tersebut. Salah satu partisipan yang membaca buku pengembangan diri untuk kariernya berkata, "Saya sudah bekerja selama satu tahun, lalu tiba-tiba saya dan beberapa rekan saya dipecat." Itulah mengapa ia membutuhkan sebuah buku untuk bertransisi dari kesialannya tersebut.

Well, aku tidak seserius itu. Pertama, aku jarang baca buku nonfiksi apalagi genre pengembangan diri. Kedua, aku selalu tidak sejalan dengan bahan bacaan nonfiksi bagai buku teks mata pelajaran sekolah yang kaku. Ketiga, saat sekali-kalinya baca buku pengembangan diri, aku membacanya hanya untuk "membaca" tanpa berharap perubahan dalam kehidupan yang sebenarnya sudah lebih dari 20 tahun kujalani. Nggak ngefek, istilahnya.

Lalu hadirlah buku ini yang meruntuhkan segala persepsiku tentang buku nonfiksi lebih-lebih pengembangan diri. Seperti tersihir, karya pertama Austin Kleon yang kubaca ini membuatku ingin segera melakukan apa yang tertulis di dalamnya. Aku merasa bertalian dengan hal-hal yang diangkat oleh buku ini; tentang kreativitas, tentang ide, dan tentang mencuri yang sudah ada dan menciptakan yang baru.

Seperti yang tertulis pada halaman terakhir buku ini bahwa tidak semua nasihat itu sehat—jangan ragu mengambil yang sesuai, dan abaikan lainnya—aku pun tidak menelan bulat-bulat semua petuah sang penulis. Kalau penulis membuat tagline 10 hal yang tak seorang pun beri tahu tentang menjadi kreatif, maka aku mengambil lima hal yang mungkin bisa mengubah hidupku secara personal, dan hidupmu secara umum. Ini berdasarkan aku yang merasa tertampar, tertohok, dan tergurui oleh hal-hal tersebut. Berikut daftarnya.

1. Jadilah Kolektor Ketimbang Penimbun

Buku ini memberikan perbedaan antara dua kata tersebut. Bahwa kolektor adalah mereka yang mengumpulkan hal yang benar-benar disukai atau biasa disebut dengan mengoleksi sedangkan penimbun akan mengumpulkan apa saja. Dan ini membuatku tertohok karena sepertinya aku salah melabeli diriku sendiri seorang penimbun buku. Aku seharusnya menyebut diriku sendiri seorang kolektor buku karena aku hanya mengumpulkan buku-buku yang kusukai. Yah, walaupun jumlahnya tak terbatas. Kamu bisa baca di sini untuk mengetahui "koleksi" buku-bukuku.

Terlepas dari itu, penjelasan tentang kolektor ini adalah tentang menghimpun gagasan bagus yang berelasi dengan hidupmu atau bisa dikatakan yang kamu sukai. Dari gagasan tersebut, kamu bisa menemukan minatmu. Setelah menemukan minatmu, kamu akan tahu ke mana arah yang ingin kamu tuju. Kurang lebih seperti itu yang kutangkap dari penjelasan ini.


2. Kamu Suka Pada Sesuatu? Tulislah!

Ini seperti yang sedang kulakukan saat ini. Menulis ulasan buku. Aku tahu ini sedikit klise tapi aku ingin berperan dalam hal yang kusukai. Membaca adalah hal yang kusukai dan langkah sederhana untuk berperan akan hal itu adalah membuat membaca adalah hal yang menyenangkan! Dan bagaimana caranya? Adalah dengan menuliskan hal-hal menyenangkan tersebut; hal-hal menarik dalam buku, petualangan-petualangan yang terjadi, pelajaran yang bisa diambil, dan banyak lagi.

Implikasikan hal tersebut dengan yang kamu sukai. Suka night running? Tulislah tentang bagaimana kamu menyukainya atau fakta-fakta tentang berlari di malam hari tidak membuatmu masuk angin. Suka menjahit? Tulislah tentang tutorial menjahitmu dengan bahan perca atau bagaimana melindungi jarimu agar tidak terkena jarum jahit. Dan aku mengutip salah satu kalimat pada halaman 47 buku ini: "Kita menghasilkan karya karena menyukainya." Jangan anggap remeh tulisanmu, karena itu adalah karyamu!

3. Menjadi Kuper Sepertinya Tidak Buruk Juga

Sebenarnya ini sedikit metafora, tapi tidak apalah. Aku seorang yang bisa dibilang kuper, bahkan label itu sudah tersemat sejak aku masih SD. Aku susah bersosialisasi. Aku tidak suka menghabiskan waktu dengan nongkrong dan hanya mengobrol tidak jelas. Tapi sekalinya mendapat teman yang cocok, aku akan melakukan segala hal bersamanya, bahkan sampai mengorbankan hal lain yang lebih penting. Tetap saja, akulah si kuper. Dan aku melihat celah itu pada buku ini!

Ciptakan duniamu sendiri. Ciptakan ruang yang nyaman akan dirimu. Bila kamu tidak suka dengan sesuatu—apalagi tidak membuatmu untung—kenapa kamu terus melakukannya; terus berdekatan dengannya? Setelah membangun duniamu itu, kamu akan merasa bebas dan segala hal dapat bekerja sesuai dengan kehendakmu. Idemu bercucuran ke mana-mana. Aku suka kutipan dari Franz Kafka yang penulis hadirkan pada halaman 88 buku ini. Tapi kamu tahu kan apa itu kuper? Coba cari di kamus gaul.

"Kamu tidak perlu keluar rumah. Duduk saja dan dengarkan. Malah tak perlu mendengar, tunggu saja. Oh, bahkan jangan tunggu, tetap diam saja. Seluruh dunia otomatis akan menawarkan diri kepadamu." (hal. 88)

4. Berhijrahlah

Ini tentang sebuah pencapaian. Jika kamu sudah mendapatkannya, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Diam saja? Itu bukan perlakuan yang tepat. Kamu harus pindah ke lain tempat! Cari tempat lain yang bisa membuat belajar untuk mencapai hal lain. Buku ini menjelaskan bila ingin berbakat, dekatilah dengan orang berbakat. Simpel sepertinya, apalagi untuk orang kuper sepertiku. Tapi tidak mungkin tidak bisa dicoba. Atau mungkin sebenarnya aku telah mulai mencobanya. Akan lebih mudah bagimu yang tidak kuper sepertiku. Jadi, mulailah!

5. Jangan Capek-Capek pada Pekerjaan Tetap

Pekerjaan tetapmu mengharuskanmu berangkat jam 5 pagi lalu sampai rumah lagi jam 8 malam selama lima hari dalam seminggu? Sungguh melelahkan. Tapi carilah celahnya. Kamu bisa melakukan hal lain pada perjalanan berangkat dan pulang kantor. Bawalah catatan—ini juga dijabarkan pada buku ini—dan catat apa saja yang kamu minati selama perjalananmu. Terlalu ribet? Gunakan gawai mahalmu itu! Jangan hanya untuk perbarui status atau bersosial media atau berkomentar pada berita panas media daring. Gunakan untuk pekerjaan lain; menulis, meriset, menggambar, apa pun.

Sebenarnya bagian yang ini menjelaskan tentang rutinitas yang tidak melelahkan sehingga ada waktu dan tenaga sisa untuk melakukan hal lain—pekerjaan sampingan. Seperti yang dikutip pada halaman 121 buku ini, bahwa kiatnya adalah menemukan pekerjaan tetap yang bergaji layak, tidak membuatmu mual, dan masih menyisakan energi untuk berkarya di waktu luang. Susah? Tentu. Mustahil? Tidak.

***

Aku sedikit terkikik-kikik setelah membaca tulisan di atas. Kok seperti artikel motivasi di media daring saja? Tapi memang begitulah yang termaktub di kepala seusai membaca buku ini. Sudah sejak lama berniat memiliki buku ini. Akan kutaruh di samping tempat tidurku dan kubuka acak ketika sedang ingin. Buku ini bermanfaat, sungguh. Mau coba mengubah hidupmu? Bacalah buku ini dan temukan nasihat yang seusai denganmu. Terima kasih untuk Hana yang telah meminjamkan bukunya kepadaku. Terima kasih juga untuk penerbit dan orang-orang di balik layar yang telah menerjemahkan dan menerbitkan buku ini sehingga memudahkanku memahaminya.


Pengarang : Austin Kleon
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2014
Dibaca : 10 Oktober 2016
Rating : ★★★★

7 komentar :

  1. Aah.. Review loe keren.. :D Gue udah baca dari Feb tapi bingung nulis reviewnya kayak gimana like pengen cerita semua yang ada di buku. Hahahaha. sama2 Raafi. Ngomong2 soal nyesel ga beli pas diskon 30% Mungkin ada bagusnya loe pinjam dari gue, kadang kalau buku beli sendiri,bacanya malah ditunda. Kalau pinjam kan ngga enak lama2 jadi bisa baca lbh awal. *ini ceritanya gue mau menghibur loe tapi ngga tahu loe terhibur apa ngga :p*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Makasih, Hana! Itu membantu menghibur. Memang kalo beli sendiri, bacanya suka ditunda dan masuk ke rak "koleksi".

      Hapus
    2. Yeah! Sama2, Raafi :) o ia, Glad to find out you enjoy this book as much as I do. I gave 5 star too. ♪\(*^▽^*)/\(*^▽^*)/

      Hapus
  2. Ah jadi pengenn punyaaa
    Sama kayak kak rafi, aku ga doyan nonfiksi, tapi kali ini tertarik banget.

    Judulnya pas haha 'steal like an artist' berhubung artist seeing 'nyuri' ide orang main dan memperbaruinya. Aku suka gagasan itu haha

    Nice work! Keep it up

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Angel! Hahaha. Sabar ngetiknya, jangan terburu-buru. Ayo baca, sepertinya masih banyak di toko buku.

      Hapus
  3. Kreatif adalah melihat dari sudut pandang berbeda. Kreatif adalah mampu menyiasati keterbatasan. Kreatif adalah menemukan solusi terbaik dari permasalahan. Buku ini mengembangkan kreativitasmu, siapa pun kamu, dalam bidang apa pun kamu berkarya. I like this book, same as you, Fii.

    BalasHapus

Back to Top