06 Agustus 2016

Ulasan Buku: Herr Der Diebe

Judul : Pangeran Pencuri
Judul Asli : Herr Der Diebe
Pengarang : Cornelia Funke
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Dibaca : 6 Agustus 2016
Rating : ★★★★

"Jauh lebih praktis kalau kita tetap kecil. Kita tidak terlalu menarik perhatian, dan kita juga lebih cepat kenyang. Kau tahu apa yang selalu dikatakan Scipio? Anak-anak seperti ulat dan orang dewasa seperti kupu-kupu. Dan tidak ada kupu-kupu yang masih ingat bagaimana rasanya menjadi ulat." (hal. 60-61)

Ketika Makan siang kemarin, rekan kerjaku sempat bilang, "Kita selalu menginginkan hal yang tidak miliki." Hal itu sehubungan dengan katering makan siang yang disediakan kantor dan sebagian karyawan merasa bosan karena menu yang disajikan monoton. "Kalo nggak pake katering, pasti kita mendambakan makan siang yang praktis dan cepat seperti ini," sambungnya.

***

Prosper dan Bo, kakak-beradik yang melarikan diri dari sang bibi. Sepeninggalan ibu mereka, Bibi Esther memiliki hak adopsi atas Bo tetapi tidak dengan kakaknya. Prosper akan ditempatkan di sekolah asrama. Venezia, itulah tujuan kakak-beradik itu. Mereka meringkuk di dalam kereta api yang berderak-derak dan bersembunyi dari siapa pun.

Sang bibi sepertinya mengetahui Prosper membawa Bo sampai ke Kota Rembulan. Ia dan suaminya menghubungi Victor Getz, detektif kota serbabisa. Ia meminta Victor mencari kedua anak itu dan akan membayarnya dengan harga yang pantas. Victor seharusnya tidak menyetujuinya karena kakak-beradik itu membawanya kepada masalah dan Si Pangeran Pencuri.

***

Aku mengangkat topik katering makan siang di atas karena memang berhubungan dengan cerita dalam buku ini. Si Pangeran Pencuri terutama yang menginginkan kehidupan dewasanya lebih cepat karena ia sangat tidak suka menjadi anak-anak yang penuh kekangan dan suruhan tanpa diberi keleluasaan. Sangat bertolak belakang dengan cerita Peter Pan nan masyhur yang hidup muda selamanya; pun aku yang sebenarnya ingin menjadi anak-anak saja karena terlihat polos dan penuh rasa ingin tahu. Tidak biasa kan? Inilah yang membuatku "betah" menyelesaikan buku setebal 400-an halaman.

"Di sekolah kami dibacakan kisah Peter Pan, kautahu cerita itu? Dia tolol sekali, dan kau dan kakakmu, kalian sama seperti dia. Kalian kembali jadi anak kecil, supaya kalian bisa didorong-dorong dan ditertawakan!" (hal. 335)

Lalu selanjutnya, apakah ada alat atau apa saja yang bisa mengabulkan keinginan Si Pangeran Pencuri itu? Konon katanya di Venezia terdapat komidi putar para suster Putri Kasih itu bisa membuat anak kecil bisa menjadi orang dewasa dan sebaliknya setelah menaikinya selama beberapa putaran. Cocok sekali dengan apa yang diinginkan Si Pangeran Pencuri, bukan? Jadi, dia berpikir untuk mencobanya. Tapi ia tak tahu di mana letak komidi putar tersebut dan kau harus mencari tahunya sendiri.

Sebenarnya ada hal yang masih bisa digali lagi. Seperti bagaimana cara kerja Victor sebagai detektif yang pada buku ini tidak diceritakan secara gamblang teknis kerjanya atau kisah komidi putar yang rasanya hanya sebagai "tempelan" karena asal-muasalnya yang hanya "konon". Namun ini bukan buku detektif atau ceritanya akan lebih panjang lagi jika komidi putar itu diceritakan. Yah, ini memang buku anak-anak.

Venezia

Melalui buku ini, aku jadi ingin ke Venezia! Kota Rembulan dideskripsikan secara detail dari bangunan-bangunan kota yang bersebelahan dengan air, jembatan-jembatan, gondola-gondola, sampai segala macam bentuk patung singa dan naga yang banyak tersebar di kota. Selain itu pada setiap awal bab diberikan ilustrasi yang membuat Venezia terlihat lebih nyata. Setiap cerita dibawakan detail khas Funke dengan penggambaran latar dan karakter yang padat namun tetap ringan dibaca bahkan oleh anak-anak.

Aku suka buku ini. Tentang konsep anak-anak-ingin-jadi-dewasa-dan-sebaliknya yang bisa dikabulkan dengan komidi putar itu. Tentang karakter-karakter di dalamnya yang sama kuat; kau akan tahu susah mencari tokoh utama dalam buku ini—semuanya sama rata. Tentang detail Venezia yang begitu apik diceritakan. Tentang pelajarannya mengenai ambisi dan sikap menerima. Padat sekali, sungguh. Dan aku menyukainya; setiap halamannya. Aku harap tak akan lupa kisah Prosper dan Bo dan Victor dan Si Pangeran Pencuri ini.

Ulasan ini untuk tantangan FSFD Reading Challenge 2016 kategori [2] Stand Alone.

2 komentar :

  1. Terkadang ada saatnya saat kita dewasa kita membutuhkan sifat anak kecil yang selalu memaafkan dan tidak dendam, yang gak pernah nyerah hihihi

    BalasHapus

Back to Top