03 September 2014

Siddhartha

Sampul
Judul : Siddhartha
Pengarang : Hermann Hesse
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 2 September 2014
Rating : ★★★

"Rupanya memang begitu. Semua mengambil, semua memberi, begitulah kehidupan." —Siddhartha (hal. 75)

Aku coba mencari persamaan cerita antara buku ini dengan kisah Siddhartha Gautama yang menjadi figur utama dalam Agama Buddha, tetapi ceritanya berbeda. Terang saja karena dalam buku ini Siddhartha dan Gautama merupakan dua karakter yang berbeda, walaupun pada akhirnya Siddhartha menjadi tubuh dari sang Gautama. Kamala yang menjadi pasangan Siddhartha pun tidak aku temukan dalam kisah Sang Buddha. Jadi, jangan samakan buku ini dengan kisah Sang Buddha.

Sang Buddha
Sepanjang membaca, aku sempat berpikir untuk menghentikannya karena aku tidak begitu mengerti jalan ceritanya. Dengan gaya bahasa dengan sudut pandang yang tidak konsisten (terdapat kata ganti orang ketiga dan pertama), membuatku semakin bingung. Sangat berat ya sepertinya, tetapi memang ini buku filsafat-agama yang isinya ungkapan-ungkapan yang hanya dimengerti sebagian orang. Selain itu, buku ini sudah ada sejak 1922 di Berlin sana, sudah sangat klasik. Tetapi aku ingin tahu akhir dari petualangan Siddhartha yang mencari arti hidupnya.

Tidak masalah bagiku dengan kesulitan-kesulitan itu, pada akhirnya aku menyelesaikan membaca buku ini. Dan aku mendapat pelajaran tentang bagaimana keserakahan dan nafsu adalah hal yang tidak patut dimiliki. Aku juga belajar tentang sungai yang dengan suara riaknya dapat menenangkan. Dan banyak lagi...

Om
Istilah-istilah Buddha juga aku dapatkan. Seperti kata "Om" yang berarti kesempurnaan, salah satu kata suci bagi penganut agama Buddha. Siddhartha menyadari kata itu adalah segalanya setelah sekian lama bersama Vasudeva, Tukang Tambang di sungai yang menjadi gurunya. Dan aku juga tahu simbol yang berada di sampul depan buku ini adalah simbol "Om".

Patut dibaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana baik dan buruk dalam bertata krama.

"...cinta bisa diperoleh dengan mengemis, membeli, menerimanya sebagai hadiah, menemukan-nya di jalan, tetapi tak bisa dicuri. Dalam hal ini, kau sudah keliru. Tidak, akan sangat disesalkan, pemuda tampan seperti kau menanganinya dengan cara seperti itu." —Kamala (hal. 66-67)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top