23 Desember 2013

The Eyes of The Dragon

Sampul
Judul : Mata Naga
Judul Asli : The Eyes of The Dragon
Pengarang : Stephen King
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 23 Desember 2013
Rating : ★★★★

Pertama kali membaca karangan seorang Stephen King dan... aku terhanyut. Asli, lebay!

Jadi buku ini bercerita tentang penunggang, naga dan api yang menyembur keluar dari mulutnya? Bukan. Tidak seperti itu. Aku terkecoh dengan judul buku ini. Dan mungkin kalian juga begitu. Hanya satu naga yang tercerita di kisah ini, bahkan itu hanya sebuah cerita di dalam cerita. You know what I mean. You don't? You have to do it!

Jadi, ini adalah cerita tentang kerajaan; sebuah kerajaan bernama Delain. Bercerita tentang kisah Raja Roland yang tidak gagah, tidak terlalu pintar, juga tidak bijaksana yang memerintah Delain dengan bantuan seorang Penyihir bernama Flagg, seorang Penasehat Raja. Roland memiliki satu istri yang dinikahinya di usia tua karena didesak untuk memiliki keturunan untuk meneruskan tahta, bernama Sasha, juga dua orang anak. Dan ceritanya adalah bukan tentang Roland, tetapi mengenai kedua anaknya, Peter dan Thomas. Walaupun begitu, asal-muasal cerita memang dari Raja yang suka mabuk-mabukan itu.

Singkat cerita, Sasha dan Roland meninggal ketika Peter berumur 17 tahun dan Thomas 12 tahun. Jangan ditanya kenapa Sasha dan Roland meninggal atau siapa yang akan meneruskan tahta. Semuanya ada hubungannya dengan Penasehat Raja itu. Ya, Flagg.

Dan bagaimana itu bisa berhubungan? Apa yang terjadi pada Peter dan Thomas setelah kedua orang tua mereka meninggal? Aku tak mau menceritakannya.

Novel ini penuh dengan cerita keberanian, kepemimpinan, kesetiaan, persahabatan, juga tentang kelicikan dan rasa puas diri yang salah kaprah. Oh, kalian pasti tahu ulah siapa itu! Tapi aku yakin yang menjadi Raja Delain di kemudian hari itu adalah seorang raja yang pintar, bijaksana, dan berani.

Terlepas dari itu semua, aku mau membahas tentang kenapa aku terhanyut dengan gaya penulisan om King. Aku seperti didongengi oleh dia. Kau tahu kalau ada yang mendongeng pasti ada sebagian kalimat subjektif tentang bagaimana pendongeng memberi tahu perasaannya tentang cerita yang sedang dibuatnya. Begitulah om King, dan aku baru sekali ini membaca begitu diperhatikan. Diperhatiin buku?! Please deh!

Aku sempat berkicau sehabis membaca tuntas novel ini. Aku bilang: One more epic-fantasy tale about family, friendship & dark-side. So classic! Dan aku tidak akan mencabut kata-kataku itu mengingat novel ini tercipta dua-puluhan tahun lalu. Aku tahu bahkan buku yang baru diterbitkan baru-baru ini juga bisa disebut buku klasik. Tapi novel ini berisi sesuatu yang akan terus kau ingat, tentu saja bila kau membacanya. Baca dan nilai sendiri!

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top