28 Juli 2019

Bernostalgia Masa Kecil dengan MainZine: Childhood Magic

Edited by Me

Mungkin dianggap berlebihan, tetapi jika ada yang bertanya tentang masa kecil, aku selalu menolak untuk menceritakannya. Bukan berarti aku tidak mau berbagi, hanya saja lebih banyak kenangan tidak enaknya daripada kenangan enaknya. Bila ada yang memaksa, aku berbagi satu kenangan masa kecil yang sedikit dungu dan banyak ceroboh saat liburan Lebaran di rumah nenek. Nenek berkeluarga besar yang menghasilkan belasan cucu dan sebagai cucu pertama aku selalu menunggu-nunggu momen Lebaran karena pasti dapat angpau paling banyak ketimbang yang lain. Seperti liburan Lebaran biasanya kala itu, aku akan tetap tinggal di rumah nenek bersama beberapa sepupu sampai liburan Lebaran usai. Aku dan sepupu melakukan apa saja yang bisa dilakukan—dari bermain di pematang sawah sampai mengejar-ngejar ayam di halaman belakang rumah nenek.

Suatu ketika, aku dan beberapa sepupu sedang bermain api dan sedotan di halaman belakang rumah nenek. Beberapa dari kalian mungkin pernah melakukan hal ini: menyulut api ke sedotan dan membiarkannya menetes-netes ke tanah seperti bola api kecil. Merasa takjub, kami terus melakukannya yang saat persediaan sedotan sudah habis, kami menggunakan kantong plastik. Kami cekikikan karena efek yang dibuat dari kantong plastik berbeda dengan sedotan; bola apinya jadi lebih besar. Masih sambil bergurau, tak dinyana bola api berukuran besar mengenai daerah mata kaki kananku. Dari situlah kegemparan terjadi: aku menangis, para sepupu berteriak, beberapa paman bergegas ke halaman belakang mendekatiku, nenek membuatkan penangkal rasa sakit dengan putih telur dan menotol-notolnya ke bagian kulit yang terbakar. Sampai saat ini, bekas kulit yang terbakar masih bertengger di sekitar mata kaki kananku.


Judul : MainZine: Childhood Magic
Kontributor: Alnurul Gheulia, Annisa Rizkiana,
Antares Hasanbasri, Kelompok Bunga Matahari, Sixtales
Penerbit: Bukune
Tahun : 2019
Dibaca : 20 Juli 2019

Saat berkunjung ke Gramedia Matraman beberapa waktu lalu bersama Hestia, aku tertarik dengan sebuah bungkusan bukan buku di antara jejeran buku-buku fiksi. Setelah dilihat lebih dekat, itu adalah paket berisi lima zine yang diterbitkan oleh Penerbit Bukune. Bernama "MainZine: Childhood Magic", awalnya aku spektis dan tidak berminat untuk membacanya. Setelah Hestia memberi tahu bahwa ia tahu salah satu kontributor kumpulan zine itu ditambah dorongannya yang gigih untuk aku membelinya, tidak ada pilihan lain bagiku selain membawanya pulang. Setelah membuka segelnya dan bungkusan paketnya, aku dihadapkan pada lima zine penuh warna dari lima kontributor berbeda yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. “Tidak buruk juga membeli buku ini. Malahan suka!” ujarku kepada diri sendiri. Selain lima zine, paket MainZine ini juga disertai dengan satu poster, dua kartu pos, dan tiga stiker dari para kontributor.

Jadi, siapakah para kontributor itu? Seperti judulnya, kelima zine ini memiliki tema yang sama: kenangan masa kecil. Yang pertama ada Alnurul Gheulia yang membuat zine “Teman-Teman” yang berkisah tentang Nyala dan teman-temannya yang diminta untuk mengantar Matahari pulang agar ia bisa beristirahat. Sepanjang jalan, Nyala menemui rintangan berbentuk teka-teki seperti mencari arah dan memahami waktu. Bagian teka-teki ini membuatku teringat akan buku aktivitas anak-anak yang mesti dicorat-coret. Tentu aku tidak melakukannya di zine ini karena akan mengurangi estetika ilustrasi di dalamnya. Lantas, apakah Nyala dan teman-temannya berhasil mengantarkan Matahari?

Judul MainZine: "Teman-Teman", "Terbitan Bibabelula", dan "Pahlawan An"

Annisa Rizkiana menjadi daftar kedua dengan kreasi zine-nya berjudul “Terbitan Bibabelula”. Ialah yang Hestia tahu dari buku “Jingga Jenaka” yang juga sudah diterbitkan beberapa bulan lalu. Annisa membawaku pada cerita-cerita masa kecilnya dengan terlebih dahulu menjelaskan apa itu Bibabelula. Kata itu ia temui saat berada di mobil Jeep kecil ayahnya yang panas dan bobrok. Kala itu Annisa dan sang ayah kerap bernyanyi beberapa lagu milik ayahnya dan salah satu penggalan lagunya terdengar “Bibabelula, Bibabelula…” oleh Annisa. Ia pun bercerita soal dirinya yang bercita-cita menjadi mayoret, ketidaksukaannya pada matematika, dan kisahnya bersama kedua neneknya. Di salah satu halaman zine-nya terdapat ilustrasi seorang gadis kecil yang sedang melihat anak-anak ayam makan butir-butir beras. Dari situ, kenangan masa kecilku tentang rumah nenek yang punya kendang ayam pun hadir kembali. Mungkin zine Annisa inilah yang jadi favoritku dari "MainZine: Childhood Magic".

Zine ketiga berjudul “Pahlawan An” karya Antares Hasanbasri. Judulnya sudah mewakili isi zine-nya: seorang guru yang bertanya kepada murid-murid di kelasnya tentang siapa pahlawan mereka. Para murid awalnya mulai menjabarkan seperti apa pahlawan itu: gagah berani kayak Superman, berjasa, dan banyak membantu orang. Lalu, satu-satu dari mereka menyebutkan siapa pahlawan mereka: ayah mereka, ibu mereka, dan ibu guru mereka. Namun, ada satu murid yang masih memikirkan siapa pahlawannya sampai-sampai ibu guru menugasinya sebagai pekerjaan rumah. Pertanyaan seputar ini tentu penting diajukan kepada anak-anak agar mereka tahu siapa panutan mereka dan asalan mereka menjadikan panutan itu sebagai pahlawan. Kira-kira, siapa ya pahlawan si murid itu?

Judul MainZine: "Masak Kecil Kurang Bahagia?" dan "Makan Yuk!"

Dua lainnya adalah kreasi zine buatan kolektif. Ada Kelompok Bunga Matahari dengan “Masak Kecil Kurang Bahagia?”-nya yang aku merasakan bentuk zine-nya paling “dapet” ketimbang yang lain. Terutama di halaman yang memampangkan foto kaset dengan penjelasan Side A dan Side B seperti potongan-potongan kertas. Lalu, ada zine berjudul “Makan Yuk!” kreasi Sixtales yang menjadi zine terakhir. Kenangan tentang jajanan sekolah zaman dulu dan bekal makan siang buatan ibu menguar setelah membaca zine ini. Ada juga bagian tentang anak-anak yang sedang bermain sepeda roda tiga sembari disuapi makan oleh ibu-ibu mereka—bagian yang relatable banget sih! Sayangnya, gaya ilustrasinya berbeda jadi sedikit (serius deh cuma sedikit) mengurangi kenikmatan zine ini. Aku sungguh maklum karena zine-nya adalah kreasi kolektif.

***

Secara keseluruhan, "MainZine: Childhood Magic" adalah penemuan harta karunku pada bulan ini! Aku tidak menyesal sama sekali setelah membelinya. Aku memang jarang membaca zine, tapi "MainZine: Childhood Magic" sepertinya penting buatku. Aku bakal membuka-buka mereka lagi untuk bernostalgia tentang masa kecil yang sebetulnya tidak buruk-buruk amat kok. Terima kasih sudah membuat kumpulan zine ini! Sekarang aku betul-betul menunggu seri MainZine berikutnya!

Dan sepertinya semesta memang sudah menjadwalkanku bertemu dengan MainZine pada bulan Juli. Bulan ini bertepatan dengan Hari Anak Nasional yang dirayakan setiap tanggal 23 Juli. Ternyata eh ternyata, Juli juga menjadi Bulan Zine Internasional (International Zine Month) yang diinisiasi oleh Alex Wrekk yang merupakan pengarang di Stolen Sharpie Revolution, sebuah media kolektif yang mengumpulkan hal-hal tentang zine. Jadi, selamat Hari Anak Nasional dan selamat menyemarakkan Bulan Zine Internasional!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar