12 Mei 2017

Pengalaman Pertama Baca Metropop Bersama Black.

Judul : Black.
Pengarang : Ruth Priscilia Angelina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Dibaca : 11 Mei 2017
Rating : ★★★

Kemarin lusa, salah satu editor Gramedia Pustaka Utama menghubungiku untuk menawarkan buku untuk diulas. Mengetahui dua novel yang disebutkannya berlabel Metropop, aku hampir urung diri mengambil tawarannya. Tapi, setelah diingat-ingat, aku belum pernah sekali pun coba membaca setidaknya satu paragraf novel Metropop. Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dikecap sebelumnya. Walaupun ada rasa was-was karena akan kecewa atas waktu yang digunakan untuk membaca, aku juga mengantisipasi bila aku menyukainya. Aku akan membuka sebuah pintu untuk menikmati novel-novel Metropop lain yang selama ini selalu kututup. Kepada sang editor, aku bertanya berapa jumlah halaman kedua novel itu dan kapan aku harus sudah mengulasnya. Setelah merasa mampu untuk melakukannya, aku setuju dengan tawarannya. Salah satu novelnya adalah yang sedang kuulas kali ini.

Aku bukan tidak suka pada novel-novel dengan logo Metropop. Aku hanya menghindar. Tidak ada keinginan sama sekali untuk menyentuhnya walaupun beberapa di antara judul-judulnya begitu memikat dan blurb yang dihadirkan membuatku tertarik untuk membacanya. Sejauh pemahamanku, novel berlabel Metropop memiliki ciri-ciri kehidupan perkotaan yang khayali dengan tokoh-tokoh yang sempurna. Pria superganteng dan superkaya. Wanita cantik nan hobi belanja dan jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Alur ceritanya paling-paling tentang ganjalan pernikahan atau kawin kontrak dengan bumbu drama ala sinetron. Geez, aku begitu skeptis dan berpikir kalau novel-novel semacam itu tidak layak kubaca. Sialnya, aku menelan ludahku sendiri. Ternyata, menyenangkan juga baca novel Metropop. Hahaha.

***

Inka punya hubungan yang tidak bagus dengan kedua orangtuanya. Terutama, ibunya. Setelah berselingkuh dengan pria lain dan membuat keluarganya kacau-balau, ibunya berencana untuk menikah dengan pria lain. Hal yang paling disesali Inka adalah menutupi keburukan ibunya itu sehingga keluarganya tidak bisa diselamatkan lagi. Ayahnya yang menerima dengan lapang dada perselingkuhan ibunya membuat Inka harus bisa mengendalikan diri. Sejak masalah itu, Inka lebih membela dan menginginkan untuk selalu bersama sang ayah ketimbang sang ibu. Namun, beberapa hari belakangan ini, ayahnya tidak bisa dikontak. Telepon tidak diangkat dan sms tidak dibalas. Padahal, ayahnya sudah berjanji mengantar Inka ke bandara hari ini. Inka akan terbang ke London dan menuntut ilmu S2 Creative Writing-nya di Cambridge University.

Muka Sigi merah padam setelah melihat Inka tiba pada detik-detik terakhir keberangkatan mereka setelah tiga kali nama mereka dipanggil melalui pengeras suara di ruang tunggu bandara. Pria yang bisa dibilang teman semasa hidup Inka itu juga akan kuliah di London. Bedanya, Sigi mendapatkan beasiswa sementara Inka harus membiayai kuliahnya sendiri. Inka tahu semua akan tidak mudah, hidup di London itu. Biaya hidup yang lumayan tinggi membuatnya harus ambil kerja sambilan sembari kuliah. Keinginan Inka sebenarnya hanya satu: tinggal di sana. Ia tak mau kembali ke Indonesia. Ia ingin pergi jauh-jauh dari masa lalunya yang kelam. Tak dinyana, di London, ia bertemu dengan Chesta, pria masa lalunya yang begitu ia inginkan namun harus ia lepaskan karena semuanya adalah guyonan masa kecil. Apakah bertemu kembali dengan Chesta sebuah pertanda baik atau malah mempergelap hitam hidupnya?

***

Boots. Newsboy cap. Flight jacket. Dua dari tiga barang tersebut harus kucari tahu lebih dahulu di internet untuk bisa membayangkan apa yang dikenakan oleh para tokohnya. Pada awalnya, dahiku keseringan berkerut karena banyak detail-detail barang dari jenis sampai merek yang disebut. Semakin ke tengah, semakin banyak lagi yang disebutkan dan aku kelelahan mengerutkan dahi dan mulai berkompromi dengan detail-detail seperti ini. Membuatku ingat pada novel chicklit yang pernah kubaca beberapa paragraf (kalau ini lebih parah lagi, satu paragaf bisa menyebutkan minimal satu merek brand ternama). Inilah yang paling pertama kurasakan ketika membaca buku ini. Apakah memang ini sudah merupakan ciri khas novel Metropop? Bila iya, aku akan membiasakan diri untuk novel-novel Metropop selanjutnya. Sebenarnya bukan masalah besar, tapi aku memang tidak terlalu suka dengan hal yang sudah pasti. Imajinasi kala membayangkan barang-barang itu terkungkung pada jenis atau merek brand-nya.

Edited by Me

Aku bilang di atas bahwa baca novel Metropop itu menyenangkan. Menyenangkan karena aku diajak membayangkan hal-hal khayali yang sepertinya akan kubutuhkan bila merasa hidup ini terlalu monoton. Melalui Chesta, aku akhirnya bisa membayangkan bagaimana rasanya tampan sehingga dimudahkan dalam memikat hati wanita. Aku bisa membayangkan tiba-tiba meminta teman masa kecilku untuk menikah walaupun dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Aku bisa membayangkan membelikan seorang wanita mobil sedan Mazda berwarna hitam bahkan rumah di kawasan Westminster yang elite. Aku juga bisa membayangkan menjadi promotor konser-konser artis internasional seperti Ed Sheeran dan One Direction. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana melihat artis-artis itu di backstage. Menyenangkan sekali bisa membayangkan hal-hal semacam itu. Sensasinya bagai candu. Aku harus mencobanya lagi. Sungguh. Aku tidak sedang bersikap skeptis. Aku serius.


Untungnya lagi, buku ini tidak hanya sekadar menceritakan perihal utopis saja. Melalui Inka dan Chesta, penulis sepertinya memberikan gambaran bahwa kehidupan yang sebenarnya terlihat baik-baik saja di luar tidak baik-baik saja di dalam. Inka dan Chesta memiliki masa lalunya masing-masing. Dan bisa dibilang kelam. Mungkin itulah kenapa buku ini berjudul hitam, semua adalah tentang bagaimana Inka dan Chesta keluar dari segala kekelaman hidup mereka di masa lalu karena toh hidup memang harus terus berlanjut. Penulis juga memberikan gambaran bahwa cinta bukan tentang bagaimana tujuan di masa depan tercapai, tetapi bagaimana merasakan cinta itu sendiri. Kamu bisa kecewa dengan keadaan yang terjadi di akhir tetapi tidak dengan apa yang ada di dalam hatimu.

Di balik hal menyenangkan di atas, ada beberapa hal mengganjal yang dihadirkan pada buku ini. Aku suka dengan alur cepat pada buku. Tapi buku ini memberikan alur supercepat bahkan terkesan berloncat-loncatan. Bila dibandingkan dengan Barry Allen yang larinya mencapai 18 meter per sekon, alur pada buku ini tentu dapat mengalahkannya. Aku menunggu-nunggu momen ketika Inka dan Chesta bermalam di rumah orangtua Chesta di Cornwall. Aku juga menunggu-nunggu momen ketika Inka dan Chesta ikut liburan ke Bristol bersama Ella dan Owen. Kalaupun masalahnya tentang jumlah halaman yang akan bertambah panjang, kedua adegan itu bisa sama sekali ditiadakan. Alur yang berlari-larian ini juga mengaburkan pendalaman deskripsi latar London-nya. Aku masih belum merasa "London" pada buku ini.

Secara keseluruhan, untuk jenis fiksi yang baru pertama kali kucicip, buku ini berhasil membuatku masuk jurang ke-Metropop-an yang penuh hal-hal khayali yang bikin aku ingin menyicipinya lagi. Isi bukunya juga ternyata tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya: mengangkat tema yang lumayan berat. Dan aku suka kekhasan yang ada pada buku ini: Inka yang selalu mengenakan pakaian gelap cenderung hitam, Inka dan Chesta yang suka Harry Potter. Melalui Sigi, buku ini juga menjelaskan bahwa seseorang yang bikin "nyaman" saja belum cukup untuk menjadi kunci keberhasilan sepasang kekasih. Dan mengingat ini adalah karya penulis yang kubaca pertama kali, aku akan coba dengan bukunya yang lain. Bocoran: bukunya yang versi cetak ulang ini dan diterbitkan berbarengan dengan "Black.". Dan, aku masih belum mengerti apa maksud tanda baca titik pada akhir judul buku ini.

Terakhir, adakah rekomendasi novel berlabel Metropop lain darimu yang perlu kubaca?

"Orang senang menyembunyikan kenyataan untuk keindahan sementara, tanpa sadar itu hanya persoalan waktu. Pada akhirnya realitas akan menghantam dan rasanya akan ribuan lebih sakit karena kau sudah mencicipi kebahagiaan sebelumnya." (hal. 158)

Ulasan ini diikutsertakan dalam "Read and Review Challenge 2017" kategori Contemporary Romance.

2 komentar :

  1. Saya juga pernah berpendapat, kalau sudah bertaburan merk dan branded, ini pasti lini metropop. Ternyata di lini lain juga banyak kayak gitu...jadi ga spesifik juga ya.

    Btw, cobalah baca Metropop angkatan pertama, kayak Indiana Chronicles-nya Clara Ng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahuku novel chicklit juga banyak menyebutkan barang-barang bermerek. Wah, ternyata Clara Ng penulis Metropop juga ya. Makasih rekomendasinya, Mbak Desty.

      Hapus

Back to Top