14 Maret 2017

Vegetarian dalam The Vegetarian

Edited by Me

Mari mulai ulasan ini dengan bagaimana orang-orang memilih untuk tidak makan daging sama sekali untuk sisa hidup mereka. Banyak di antara mereka yang memilih menjadi vegetarian untuk kesehatan atau keinginan untuk melindungi hak-hak binatang. Aku menelusuri beberapa pengalaman para vegetarian di internet dan menemukan dua orang yang kisahnya menarik untuk disimak. Satunya adalah orang Indonesia dan yang satu lagi dari luar negeri. Singkatnya, yang orang Indonesia tidak menjadi vegetarian karena menyayangi binatang, namun karena ia merasa bahwa memakan daging bukan hal yang baik. Untuk yang orang luar negeri menjadi vegetarian tanpa alasan apa pun. Ia hanya tidak ingin menjadi vegetarian pada suatu hari lalu merasa tidak berselera untuk makan daging pada hari-hari berikutnya.

Namun, setelah merasa bahwa menjadi vegetarian itu baik, mereka menemukan kebaikan menjadi vegetarian. Terutama untuk kesehatan dan juga dari sisi spiritualisme. Mereka melihat bahwa banyak orang-orang cerdas, penemu-penemun hebat, dan pemikir-pemikir besar masa lalu ternyata adalah vegetarian. Mereka juga menemukan bahwa pola makan vegetarian menghemat sumber daya alam di Bumi secara signifikan. Untuk kesehatan, sudah banyak terbukti bahwa diet vegetarian memberi harapan hidup lebih lama dan terhindar dari banyak risiko penyakit seperti kanker dan diabetes serta kadar kolesterol yang lebih stabil. Dari sisi spiritualisme, mereka akan lebih tenang karena, setidaknya, mereka tidak memakan daging binatang yang harus diputuskan hidupnya untuk dikonsumsi manusia.

Mengetahui penyebab para vegetarian dengan dalih-dalihnya di atas memberikan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang terjadi bagi para vegetarian. Tentu saja, mereka tidak mendapatkan asupan protein hewani yang ternyata juga penting. Bagi vegetarian yang tidak mengkonsumsi produk olahan hewan seperti susu dan keju akan mengalami efek samping yang lebih banyak seperti kekurangan kalsium. Sebagian dari mereka amat membenci daging sehingga melihat orang-orang yang memakan daging akan membuat mereka mual atau bahkan merinding. Celah inilah yang bisa diambil sebagai bahan cerita. Kamu bisa memulai membuat ceritamu sendiri tentang para vegetarian, tentang penyebab-penyebab mereka yang menjadi vegetarian, hingga dampak-dampak yang terjadi setelah mereka tidak makan daging selama hidup. Ini juga yang aku lihat sebagai celah fiksi setelah membaca kisah Yeong Hye dalam The Vegetarian karya Han Kang.


Judul : Vegetarian
Judul Asli : Chaesikju-uija (Korea)
Pengarang : Han Kang
Penerbit : Baca
Tahun : 2017
Dibaca : 11 Maret 2017
Rating : ★★★

Malam itu, Yeong Hye bermimpi aneh. Mimpi yang mengubahnya menjadi tidak menyukai daging. Mimpi buruk berkepanjangan yang membuat seluruh hidupnya kacau balau. Paginya, Yeong Hye membuang semua daging yang tersimpan di dalam lemari es. Bahkan sampai telur dan susu. Suaminya yang sudah menjadi pasangan hidupnya selama beberapa tahun menjadi gusar dan bingung. Apakah Yeong Hye tetap dibiarkan saja seperti itu karena nantinya ia mungkin akan pulih dengan sendirinya dan kembali makan daging? Apakah Yeong Hye harus dibawa ke dokter? Atau apakah Yeong Hye selamanya akan menjadi vegetarian?

***

Aku senang pada akhirnya ada penerbit lokal yang menerjemahkan dan menerbitkan buku yang merupakan pemenang The Man Booker International Prize 2016 dan mengalahkan beberapa judul lainnya termasuk Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Inilah yang menjadi alasanku untuk, setidaknya, coba menikmati kisahnya. Aku melihat usaha yang luar biasa dalam penerjemahan buku yang dialihbahasakan langsung dari versi bahasa Korea-nya ini. Walaupun begitu, masih terlihat kekakuan dalam setiap kalimatnya. Dan penggunaan kata "ia" sebagai pemeran utama di dalam dua dari tiga cerita dalam buku ini membuatku bingung sehingga harus membaca beberapa kali hingga mengerti maksud kalimatnya. Untungnya, aku bisa menyelesaikannya dengan sedikit rasa khawatir karena tidak merasakan hal 'wah' yang mungkin dirasakan para juri The Man Booker International Prize 2016.

Cuplikan tentang Yeong Hye di atas adalah awal dari keseluruhan cerita yang dibagi menjadi tiga bagian novela—yang baru aku tahu setelah membaca bukunya. Perkenalan tentang dirinya yang amat menjadi vegetarian berada dalam novela yang berjudul Vegetarian, dua lainnya adalah Tanda Lahir Kebiruan dan Pohon Kembang Api. Aku mengapresiasi penerjemah dan juga penyuntingnya tentang bagaimana mereka mengalihbahasakan dua judul novela terakhir dari Mongolian Mark dan Flaming Trees. Penerjemahan dua judul novela tersebut menurutku pas-pas saja, walaupun mungkin bila aku beri saran Tanda Lahir Kebiruan bisa dialihbahasakan menjadi Bercak Mongol.

Yeong Hye, Sang Tokoh Sentral

Aku sebenarnya berterima kasih kepada ketiga teman bloger yang membuat proyek membaca buku ini dan mengulasnya dengan membagi ketiga novela dalam buku ini untuk masing-masing. Nanti akan kuberi tahu setiap ulasannya. Aku akan mengulas buku ini secara keseluruhan cerita dan mungkin beberapa tokoh di dalamnya. Sudah barang tentu buku ini bukan referensi bagi orang-orang yang ingin menjadi vegetarian, manfaat sebagai vegetarian, apalagi bagaimana cara diet vegetarian. Buku ini murni fiksi. Dan aku bisa mengkategorikan buku ini ke dalam genre psychological thriller karena ceritanya bukan bagaimana ketakutan terjadi karena dorongan dari luar tetapi apa yang ada dalam diri masing-masing tokoh.

Tiga tokoh untuk tiga novela dengan sudut pandang orang pertama untuk novela Vegetarian yang dibawakan oleh suami Yeong Hye dan sudut pandang orang ketiga untuk novela Tanda Lahir Kebiruan dan Pohon Kembang Api yang masing-masing diperankan oleh kakak ipar Yeong Hye dan kakak kandung Yeong Hye. Dan epiknya, Yeong Hye menjadi fokus sentral dari semuanya. Perubahan drastis dirinya yang menjadi vegetarian ternyata mengubah sisi psikologi setiap tokoh. Sang suami tentu sebisa mungkin bertahan demi keutuhan rumah tangga mereka berdua. Sang kakak ipar yang merupakan seniman meminta Yeong Hye untuk menjadi model untuk karya seninya dan berakhir pada ketidakharmonisan rumah tangganya. Bagian kakak kandung adalah bagian pamungkas yang menurutku antiklimaks dan menjelaskan segalanya. Yeong Hye merasa dirinya berubah dari kingdom animalia menjadi kingdom plantae.

Secara keseluruhan, buku ini adalah tentang bagaimana cara menghadapi hal-hal yang terjadi secara tiba-tiba. Pilihanmu ketika guncangan yang menghadangmu itu datang adalah (1) kamu merasa waswas dan membiasakan diri dengannya sehingga dapat mengatasinya atau (2) kamu terlalu risau dengan hal itu dan membuatmu ingin cepat-cepat pergi darinya. Tentu saja masing-masing pilihan itu memberikan konsekuensi yang berdampak pada keberlangsungan hidupmu. Gaya penceritaan penulis pun seperti memberikan aura mencekam dan tipikal pencerita masa lalu. Tipikal ketika kamu sedang berada pada alur masa kini lalu kemudian kamu dibawa oleh sang tokoh ke masa lalunya. Yah, kamu akan tahu bahwa menceritakan masa lampau adalah gambling; pasti ada yang menyenangkan tapi ada pula yang menyedihkan.

Dan ternyata buku yang pertama kali diterbitkan pada 2007 ini sudah difilmkan dengan judul yang sama di Korea Selatan pada 2009. Aku tidak bisa berkomentar banyak soal filmnya karena aku belum dan mungkin tidak menontonnya. Oh ya, untuk ulasan setiap novelanya bisa dibaca di blog Abo untuk Vegetarian, Mbak Desty untuk Tanda Lahir Kebiruan, dan Mbak Alvina untuk Pohon Kembang Api. Selamat menikmati kisah sang vegetariansang tokoh sentral!

"Kakak tahu mengapa aku bisa tahu? Mimpi. Aku berdiri dengan tanganku. Dan tumbuh dari tubuhku, akar mencuat dari tanganku. Menancap ke tanah. Tanpa henti, tanpa henti ... Bunga ingin merekah dari selangkanganku sehingga aku melebarkan kakiku, mengangkang lebar-lebar ..." —Pohon Kembang Api (hal. 179)

Ulasan ini diikutsertakan dalam "Read and Review Challenge 2017" kategori Asian Literature.

2 komentar :

  1. Wah kelar juga bacanya. Aku penasaran bab duanya diterjemahkan semua atau ada yang dipotong ya.. Nanti japri japrian deh fii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya kalo adegan "seperti itu" yang Mbavin maksud itu ada juga deh, karena aku rada kipas-kipas pas baca novela (bab) duanya. XD

      Hapus

Back to Top