02 Juli 2016

Ulasan Buku: Get Me Out of Here!

Sampul
(Middle School #2)
Pengarang : James Patterson & Chris Tebbetts
Penerbit : Noura Books
Tahun : 2014
Dibaca : 2 Juli 2016
Rating : ★★★★

"Percayalah pada ibukamu bukanlah satu-satunya anak yang berkeliaran di Cathedral yang berpikir apakah mereka cukup bagus. Seni merupakan dunia yang sangat kompetitif, bahkan di sekolah menengah." (hal. 169)

Buku pertama yang membuat kesal karena kelakuan pembuat masalah Rafe tidak menghalangiku untuk meneruskan buku selanjutnya. Untungnya, aku disuguhkan dengan cerita yang tidak melulu tentang Rafe yang berbuat onar dan menjadi biang masalah dan mendapat lebih banyak masalah lagi. Pada buku keduanya ini, aku merasakan Rafe yang lebih berhati-hati dalam bertindak dan meskipun masalah tidak pernah pergi dari Rafe, yang dialaminya kali ini bukan semua salahnya.

***

Rafe pindah ke kota karena nasib membawanya harus ke sana. Ia yang mengidamkan sekolah seni di Airbrook harus mengubur impiannya itu. Restoran tempat ibunya bekerja dilalap si jago merah yang membuat mereka menumpang di rumah sang nenek dan membuat Rafe harus tidur di sofa karena rumah sang nenek yang sempit. Satu pagi, Rafe diminta bersiap diri untuk wawancara masuk sekolah barunya yang untungnya adalah sekolah seni publik seperti di Airbrook yang diidam-idamkannya. Apakah Rafe bisa lulus dan melanjutkan sekolah di sana?

***

Aku suka betapa Rafe berubah banyak dari kelas 6. Rafe memang mengaku harus berubah karena tidak mau mengecewakan ibunya. Ditambah dengan nasib sialnya yang harus menumpang di rumah nenek, Rafe semakin dihimpit dengan keadaan yang mengubahnya lebih waspada dalam segala hal terutama di sekolah barunya. Dan kesenangannya akan menggambar akhirnya bisa dituangkan di Sekolah Kesenian Cathedral, setidaknya ia menganggapnya begitu sebelum merasakan hari pertamanya.


Halaman 2-3

Benar saja. Rafe melihat sekolah tersebut tidak sesantai sekolah lamanya. Setiap siswa berlomba-lomba untuk mengikuti pelajaran secara saksama agar tidak dibuang di akhir tahun ajaran dan tidak berlanjut ke kelas 8. Dan tentang seni yang dianggapnya menyenangkan, kelas-kelas yang diikutinya malah membuatnya bingung. Mana ada gambar yang mendefinisikan si pembuatnya. Apa pula materi-materi yang layak, kualitas garis, dan komposisi yang akan menjadikan seorang seniman seperti yang dikatakan Pak Beekman.

Selain masalah sekolah, Rafe dihadapkan pada rasa penasarannya tentang sosok sang ayah yang tak pernah diceritakan ibunya. Setelah melihat foto ayahnya yang ditunjukkan sang nenek, Rafe malah ingin tahu lebih jauh tentang siapa ayahnya; kenapa ayahnya tidak pernah sekalipun kembali dan apakah ayahnya tidak kangen padanya. Masalah terjadi ketika Rafe begitu saja memberi tahu hal ini kepada Matty, teman yang selanjutnya berubah menjadi lawan.

Akhir buku ini yang membuatku diingatkan kembali tentang arti merelakan. Ketika Rafe tahu ke mana ayahnya pergi selama ini, ia akan terus melangkah maju dan menjalani kehidupannya. Toh selama ini memang hanya ada sosok ibu di sampingnya jadi ia terbiasa dengan keadaan itu. Dan kabar gembiranya, restoran yang waktu itu terbakar kembali lagi dan ibunya diminta untuk bekerja lagi di sana. Rafe akhirnya masuk Airbrook. Ia, ibunya, adiknya, dan juga neneknya akhirnya kembali ke Hills Village. Hal itu membuat Rafe lega karena tidak tahan degan kehidupan kota yang gila juga orang-orang di dalamnya. Membuatnya ingin selalu pergi dari sana.

Oh ya, jangan lupakan Operasi: Menikmati Hidup yang lagi-lagi hasil ide saudara kembarnya, Leo. Setelah mengetahui Operasi: R.A.F.E sebelumnya yang gagal total dan membuatnya terjebak berbagai masalah, Rafe dan Leo tahu operasi kali ini tidak akan membuat mereka jatuh di lubang yang sama. Setidaknya, mereka harus menikmati hidup walaupun tinggal di kota. Jadi, apa saja yang dilakukan Rafe dan Leo dalam operasi kali ini?

"Hei, menikmati hidup selalu melibatkan hal yang baik dan buruk, bukan?" (hal. 256)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top