24 Juni 2016

Ulasan Buku: Happiness

Sampul
Judul : Happiness
Pengarang : Fakhrisina Amalia
Penerbit : Ice Cube
Tahun : 2015
Dibaca : 20 Juni 2016
Rating : ★★★★

"Kalau untuk dilihat Mama dan Papa, kalau untuk dianggap pintar, kalau untuk memenangkan hati semua orang Ceria harus menjadi nomor satu di eksakta, maka tidak jadi pemandu wisata dan penulis profesional pun tidak apa-apa." (hal. 62)

Bagaimana cara kamu menikmati hidup? Cara kamu berbahagia? Apakah dengan mengikuti orang lain yang tampak bahagia? Coba tanya pada lubuk hatimu yang paling dalam sekali lagi. Bahagia adalah tentang menerima apa yang kamu dapatkan. Setidaknya kamu bersyukur atas dirimu sendiri. Atas apa yang kamu punya.

***

Ceria memang cerdas di mata pelajaran selain ilmu eksakta, apalagi matematika. Sedari sekolah dasar, Ceria sudah dibanding-bandingkan dengan teman sekelas sekaligus tetangganya bernama Reina, terutama oleh kedua orangtuanya. Mereka selalu memuji Reina yang memenangkan perak dalam olimpiade Matematika skala internasional dan meminta Ceria untuk lebih jago dalam Matematika.

Ceria tahu dirinya tidak suka ilmu eksakta. Ia suka Bahasa Inggris dan mata pelajaran lainnya. Ia bercita-cita menjadi seorang pemandu wisata atau penulis andal. Tapi kedua orangtua yang menuntutnya untuk masuk jurusan Matematika bagai gaung yang tak pernah pudar. Ia tidak ingin mengecewakan mereka. Ia harus terus berjuang untuk menaklukan Matematika, menaklukan Reina.

***

Membaca buku ini, aku diingatkan kembali tentang makna bahagia. Ceria yang dirundung tuntutan orangtuanya menjelaskan bahwa segala sesuatu tidak bisa dipaksakan. Bahkan jika kemauanmu tinggi tapi nurani dan perasaan berkata lain. Bahagia adalah pilihan, maka pilihlah yang sesuai dengan kemampuanmu. Yakin mau mengorbankan cita-citamu yang merupakan implikasi dari kebahagiaanmu?

Dan tentang berkata jujur. Mungkin Ceria tidak akan setersiksa ini bila berterus terang kepada orangtuanya. Kehadiran sang kakak menurutku membantu untuk mengungkapkan hal itu. Tapi Ceria yang takut mengungkapkan keinginannya, begitu enggan membuat kedua orangtuanya marah apalagi kecewa. Jadi, ia melakukan segala cara agar masuk jurusan Matematika seperti Reina.

Juga ini juga pembelajaran kepada orangtua. Bukan tentang menjadikan anak seperti apa yang kalian inginkan, tapi tentang dukungan yang kalian berikan atas apa yang anak kalian inginkan. Toh mereka tahu alasan mereka memilih keinginannya dan pasti bisa betanggung jawab atas pilihannya tersebut. Bersikaplah sewajarnya.

Hahaha. Entah kenapa setelah baca buku ini aku jadi begitu serius. Yah, intinya buku ini bagus untuk kalian yang ingin mencari arti bahagia atau yang sudah tahu arti bahagia tetapi ingin merasakannya lagi. Karena kebahagiaan itu hal terpenting dalam hidup. Satu lagi karya penulis yang membuatku merasa puas setelah "Persona". Selamat membaca!

"Bahagia itu adalah... ketika kamu merasa bebas menentukan jalan hidup yang kamu ingin jalani, ketika kamu menjadi diri kamu sendiri dan melakukan apa yang kamu sukai, dan ketika kamu mampu bersyukur dengan yang kamu miliki saat ini.... Bahagia tidak berasal dari hal-hal yang orang lain ingin kamu lakukan, Ceria, tapi berasal dari dalam diri kamu sendiri." (hal. 204-205)

Ulasan ini untuk tantangan Young Adult Reading Challenge 2016. 

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Back to Top