26 Januari 2017

Ulasan Buku: Jogja Jelang Senja

Judul : Jogja Jelang Senja
Pengarang : Desi Puspitasari
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2016
Dibaca : 25 Januari 2017 (via SCOOP)
Rating : ★★★

Percaya akan kebetulan? Sebagian orang berpendapat bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan karena sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Masa bodoh tentang kebetulan atau takdir karena ini yang kualami: Setelah membaca "Nyanyian Akar Rumput", aku coba menilik salah satu toko buku daring dan mendapati satu buku yang sedang masa pre-order. Setelah kukulik lebih jauh, sang pengarang telah menulis beberapa buku dan salah satunya ada format digitalnya. Kupastikan buku itu bukan sastra karena aku baru saja selesai baca sastra. Aku butuh istirahat dengan cara membaca buku bertema ringan. Lalu, aku baca buku itu tanpa ekspektasi apa pun. Selain kisah cinta, buku itu ternyata bercerita tentang perlawanan berlatar tahun 90-an bahkan menyebut-nyebut Wiji Thukul. Apa namanya kalau bukan kebetulan?

***

Senja itu di kota Jogja, Kinasih dan Aris saling bertubrukan saat mengendarai sepeda. Tentu secara tidak sengaja. Keduanya sedang sama-sama terburu-buru. Kinasih harus lekas pulang ke rumah karena waktu Maghrib akan segera tiba. Ia harus menyiapkan hidangan berbuka puasa. Sementara Aris harus meliput suasana pasar Ramadan di kawasan Kotagede. Tugasnya sebagai wartawan harus benar-benar diburu waktu. Bila terlambat barang semenit, peristiwa penting bakal terlewat. Karena terburu-buru, ebagai permintaan maaf, Aris memberikan kartu namanya kepada Kinasih. Kalau-kalau wanita itu meminta pertanggungjawabannya.

Kinasih mengayuh sepeda milik Midah menuju kantor Aris di Jalan Mangkubumi. Sebenarnya, luka yang dialaminya sudah membaik karena telah diberi obat merah. Tapi, sepedanyalah yang penting. Ia amat membutuhkan sepeda itu untuk bekerja. Untungnya lelaki itu menyanggupi. Selama menunggu sepeda Kinasih diperbaiki, Aris berjanji untuk mengantar jemput Kinasih bekerja sebagai jalan keluar sementara. Kinasih merasa tidak enak. Aris tidak perlu merepotkannya seperti itu. Namun, Aris tetap bersikukuh. Dan, dari tabrakan kecil itulah kisah cinta Kinasih dan Aris dimulai.

25 Januari 2017

Istirahatlah Kata-Kata Bersama Nyanyian Akar Rumput

Judul : Nyanyian Akar Rumput
Pengarang : Wiji Thukul
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 21 Januari 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★★

Seseorang mengajakmu keliling kota. Tak perlu risau, ia menjanjikan kali ini tak mengeluarkan uang sepeser pun. Ia mengajakmu ke toko perbelanjaan tingkat lima untuk melihat-lihat. Yah, masuk pun tak bayar kan. Lalu, ia juga bisa mengajakmu ke gedung bioskop untuk melihat-lihat poster atau ke diskotek untuk mendengar detak musik dan denting botol. Pasti banyak tawa di sana. Atau kamu bisa ke hotel baru bintang lima. Ada peresmian yang dibuka pejabat tinggi di sana. Sudah merasa capek? Maka pulanglah. Ia akan mengajakmu kembali ke rumah kontrakan dan bersiap untuk kerja di pabrik esok hari. Jangan lupa sarapan nasi bungkus terlebih dahulu, agar kuat bekerja sampai sore. Yah, ngutang juga tidak apa-apalah.

***

Kamu akan mengira tulisan di atas adalah fiksi buatanku sendiri. Namun, tidak. Tulisan di atas merupakan cerita yang disarikan dari puisi "Nonton Harga" karya Wiji Thukul. Dalam buku ini, ada pada halaman 156-157. Dari gubahan di atas, dapat disimpulkan bahwa bait-bait karyanya sangat mudah dibaca dan dicerna. Pilihan diksinya yang tak mendayu-dayu dan ringkas menjadikan puisi-puisi Sang Wiji berbeda dengan karya penyair lain. Sehingga bisa kubilang bahwa bersama buku ini, aku mendapatkan pengalaman baca puisi yang berbeda dengan yang lain.

Penggal-penggal bait yang dibawakannya berbeda dari yang dilontarkan para penyair-penyair lain. Puisinya murni tentang perlawanan. Yang membacanya diajak untuk mengenal suara yang dielu-elukan orang-orang bawah. Selain itu, Wiji Thukul kentara sekali melakukan perlawanan pada pemerintahan kala itu. Dalam pengantar buku ini disebutkan bahwa Wiji Thukul dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya sebagai aktivis dan seniman rakyat. Kalimat "Maka hanya ada satu kata: lawan!" pun menjadi begitu populer melebihi sang penyair itu sendiri dan berhasil menemukan api bagi simbol perlawanan.

22 Januari 2017

Arti Kesetiaan dalam The Devotion of Mr. X

Edited by Me

Adalah penting untuk membahas soal kesetiaan yang didasarkan tokoh utama pada buku ini. Begini, ada seorang pria yang begitu mengagumi tetangganya—seorang wanita beranak satu yang telah bercerai dengan suaminya. Mereka tak pernah mengobrol. Mereka tak pernah bercengkerama laiknya tetangga. Mereka hanya bertegur sapa kala berpapasan. Suatu ketika wanita itu mendapat kesulitan yang sebenarnya adalah kesalahannya sendiri. Seperti itu kan perbuatanmu, tentulah kamu yang menerima risikonya betapa pun itu. Namun berkat kekaguman yang telah lama dipendam, sang pria hadir untuk memikul risiko yang seharusnya milik sang wanita. Sang pria mengorbankan segalanya bahkan harga dirinya untuk sang wanita. Saking kagumnya sang pria, ia akan melakukan apa pun agar kesalahan sang wanita tertutupi lebih-lebih terhapuskan.

Setia adalah kata yang amat ampuh. Coba saja lontarkan kata itu kepada pasanganmu (bila punya), hatinya pasti berbunga-bunga. Ia akan merasa bahwa hidupnya sempurna karena telah mendapatkan pasangan yang telah bersumpah akan bersamanya sampai akhir hayatnya. Tapi semudah itukah melontarkan kata setia? Apalagi dalam sebuah hubungan serius. Oke, baiklah, aku memang bukan ahli percintaan, tapi aku sedikit banyak tahu apa yang membuat setia adalah hal terpenting dan di atas apa pun dalam sebuah hubungan. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

15 Januari 2017

[Wrap Up] Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challenge 2016 + The Winner


Aku lupa untuk memasukkan tantangan membaca ini ke dalam kaleidoskop 2016. Kala itu, membuat Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challange 2016 adalah sebuah tantangan tersendiri. Setelah membuat pos opini tentang perbedaan genre fantasi, fiksi ilmiah, dan distopia, aku memberanikan diri untuk membuat tantangannya. Salah satu alasanku menyelenggarakannya adalah cari tahu berapa banyak pembaca yang menyukai genre campur-aduk ini. Alasan lainnya karena aku sendiri ingin mengukur seberapa jauh aku masih menggemari genre-genre ini. Sampai akhirnya memutuskan untuk memberi hadiah yang lumayan bagi pemenangnya, aku tahu bahwa tantangan ini harus berjalan apa pun risikonya. Dan tak dinyana, pada dua bulan pertama, sudah ada 80 tautan yang disetorkan. Sangat di luar dugaanku!

Mari bicara data. 32 orang berani mendaftarkan diri dalam Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challange 2016. Dari tiga level kesulitan, yang memilih level Muggle dan Elf sama kuat yaitu masing-masing 15 orang. Sedangkan untuk level Dragon ada 2 orang. Dan jumlah dari seluruh ulasan yang disetor: pada periode Januari - Februari 2016 sebanyak 80 tautan, periode Maret-April 2016 sebanyak 44 tautan, periode Mei-Juni 2016 sebanyak 20 tautan, dan periode Juli-Desember 2016 sebanyak 43 tautan. Totalnya 187 tautan. Ada yang janggal? Jika disimak baik-baik, jumlah tautan pada periode enam bulan saja kalah dengan yang ada pada periode dua bulan pertama; hampir setengahnya. Tidak semua orang bisa konsisten dengan apa yang mereka harapkan di awal tahun. Salah satu penyebabnya adalah karena kesibukan. Aku tidak akan berkomentar lebih jauh. Sampai di sini dan aku masih belum berbicara ada berapa orang yang berhasil dengan tantangan membacanya. Aku berharap ada.

08 Januari 2017

Ulasan Buku: Playon

Judul : Playon
Pengarang : F. Aziz Manna
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2016
Dibaca : 25 Desember 2016 (via SCOOP)
Rating : ★★★

"sebuah paku menancap. kau membayangkan tangan yang kekar itu, martil itu, menghantamnya, menembuskannya, menancapkannya, dan membiarkannya. sebuah paku menancap. kau membayangkan jam atau pakaian atau kunci atau foto tergantung di situ. sebuah paku menancap. kau membayangkan apa yang harus terjadi antara sebuah besi, sebuah palu dan pakaian dan kunci dan jam penunjuk waktu itu bahkan foto kenanganmu. sebuah paku menancap. kau pun membayangkannya menancap di tengah telapak tangan di kayu palaing. sebuah paku menancap. sendirian dan tak terperhatikan." (Paku, hal. 30)

Sudah saatnya aku menuntaskan ulasan buku ini. Setelah berkali-kali memutar otak akan membahas apa selain mengulas, akhirnya aku memutuskan untuk berinteraksi langsung dengan sang penulis melalui email. Sekaligus mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganjal seusai membaca "Playon". Inginnya kujadikan percakapan bagai wawancara. Tapi karena tidak banyak-banyak amat, aku hanya selipkan jawaban yang diberikan penulis. Salah satunya adalah pendapat penulis tentang sayembara sastra daerah selain Jakarta yang sepertinya kurang terasa gaungnya.

***

Satu hal yang pasti, aku tahu tentang "Playon" karena menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 kategori Puisi. Saat mengobrol bersama teman penyuka sastra, menanyakan kepadaku apakah buku tersebut mudah dipahami. Sebagai keturunan Jawa (yang pada akhirnya murtad karena hanya tahu sedikit-sedikit tentang bahasanya), aku mengerti isinya sedikit banyak. Dan itulah yang kujawab pada temanku tersebut. Ia yang orang Jakarta ragu untuk membaca "Playon" karena khawatir tidak mengerti puisi-puisi yang disampaikan. Aku jadi bertanya-tanya kenapa nuansa Jawa-nya kental sekali. Dan aku berasumsi, mungkinkah puisi-puisi di dalamnya dibuat untuk kalangan sendiri saja. Untungnya, aku mendapat jawabannya.

[Wrap Up] Read and Keep Reading Challenge


Ingat celengan siluman di atas? Aku pernah memperkenalkannya pada pos artikel "Read and Keep Challenge". Kamu tahu beratnya berapa sekarang? Jangan tanya karena aku pun tidak tahu jawabannya. Pokoknya, celengan tersebut sudah terisi banyak. Aku menabung sekaligus mengikuti tantangan Mbak Alvina dalam "Read and Keep Challenge". Lebih tepatnya, aku tidak akan menabung bila tidak ada tantangan ini. Jadi, aku beterima kasih kepada sang penantang. Namun sayangnya, aku semakin keranjingan menabung sehingga sepertinya akan kubiarkan tidak terbuka sampai benar-benar tidak bisa dimasukkan uang logam dan kertas lagi. Atau sampai aku benar-benar membutuhkan uang.

Begini, pernahkah kamu membuat target sesuatu pada awal tahun dan mengubahnya di tengah tahun? Atau, pernahkah kamu bertekad menabung untuk beli sebuah buku pertama dari seri kesukaanmu dan pada pertengahan tahun tekadmu menjadi berlebih sehingga keinginanmu pun diperbesar menjadi boxset seri kesukaanmu itu karena kamu tahu bahwa kamu sanggup membelinya? Nah, itulah yang terjadi dengan si celengan siluman. Awal mengikuti tantangan ini, aku tidak ada tujuan apa pun dengan uang yang kusisihkan. Hanya untuk 'tantangan' saja. Sampai di tengah jalan, aku membuat sebuah nazar dan berpikir bahwa lebih baik mengalokasikan tabungan dari si celengan siluman itu untuk mewujudkannya.

07 Januari 2017

Read and Review Challenge 2017

Edited by Me

Awalnya, berpikir untuk tidak mengikuti tantangan membaca apa pun pada tahun ini. Namun, rasanya hambar bila hanya membaca tanpa target lainnya. Ada "Goodreads Reading Challenge" yang sejak 2013 berhasil dilakukan sih, tapi itu kan cuma tantangan membaca buku sesuai dengan jumlah buku yang ditentukan. Itu sih semacam kamu punya target makan tiga kali sehari yang akan kamu lakukan sehari-hari karena ya itu memang kebutuhan sehari-hari. Bedakan bila, misalnya, kamu harus makan makanan berbahan sayur-mayur pada hari Senin dan makanan berbahan dasar seafood pada hari Sabtu. Terlihat lebih menantang, bukan?

Kabar gembira! Divisi Event BBI yang biasa menyelenggarakan acara daring maupun tidak membuat terobosan baru tahun ini. Menggantikan Posting Bareng BBI yang sudah dilakukan beberapa tahun terakhir, Divisi Event BBI akhirnya membuat tantangan "Read and Review Challenge 2017". Pertanyaan selanjutnya: apakah itu? Simpel, itu adalah tantangan membaca dan mengulas. Tapi, sudahkah cukup sampai di situ? Tidak. Para tertantang harus mengumpulkan poin dari setiap buku yang dibaca dan diulas tersebut sesuai kategori yang diberikan. Ada 25 kategori biasa dan 5 kategori luar biasa! Nah, sudah merasa panas?

05 Januari 2017

Solanin dan Penjelasan Singkat Quarter-life Crisis

Judul : Solanin (Vol. 1 & Vol. 2)
Pengarang : Inio Asano
Penerbit : M&C Comics
Tahun : 2015
Dibaca : 5 Januari 2017
Rating : ★★★★★

Aku mulai dari mana ya? Mungkin ketika sedang blogwalking dan menilik artikel tentang buku terbaik dari teman-teman pembaca—hal yang wajar dilakukan saat pergantian tahun. Saat berkunjung ke blog Maila, aku menemukan "Solanin" pada urutan pertama daftar buku terbaik yang dibuatnya. Aku semacam meremehkan buku tersebut karena masuk komik. Begini, aku tidak pernah membeli komik, membacanya pun tidak. Aku bahkan sempat mengaku bahwa aku tidak suka komik. Semakin mencari tahu tentang komik tersebut, rasa penasaranku semakin membuncah. Apalagi komik tersebut hanya dua seri tamat. Peluang untuk memilikinya lebih besar karena tidak perlu bervolume-volume komik untuk mengikuti ceritanya.

Aku melakukan blogwalking saat istirahat makan siang, lalu petangnya sepulang kantor langsung menuju toko buku untuk mencari komiknya. Berharap mendapatkan keduanya secara bersamaan. Namun, saat itu aku hanya mendapatkan volume pertamanya saja. Malam itu juga aku menghabiskan volume satu tersebut. Dan apa yang terjadi? Ceritanya menggantung dan aku amat geram. Tidurku terbayang-bayang akan Meiko yang menunggu-nunggu kehadiran Taneda pada akhir volume pertama.

***

Meiko Inoue, seorang karyawati biasa di Tokyo, sedang mempertanyakan dirinya sendiri. Untuk apa ia bekerja? Akankah ia akan bertambah tua dengan cara seperti itu saja? Berhadapan dengan muka-muka palsu yang peduli dengan kehidupannya masing-masing. Orang dewasa yang hanya berpikir bagaimana agar tetap hidup dan menyerah pada keadaan. Hingga suatu hari Meiko menghadapi polah atasannya yang menyebalkan. Ia minta pulang cepat. Di flatnya, ia menemukan Taneda yang masih tidur di sofa. Meiko pun mengajukan pertanyaan terbesarnya dengan bergumam kepada Taneda. Pertanyaan yang akan menentukan keputusannya. Sampai Tanada memberikan jawabannya.

Naruo Taneda hanya seorang tukang gambar serabutan yang pendapatannya tidak lebih besar dari Meiko. Untungnya, ia adalah pacar Meiko sejak enam tahun lalu dan mereka tinggal bersama selama kurang lebih satu tahun. Saat mengetahui keputusan Meiko untuk berhenti dari tempat kerjanya, Taneda merasa kacau. Jawaban yang diberikannya benar-benar dilaksanakan oleh Meiko. Taneda yang biasa berbicara setengah tidur cemas dengan masa depan mereka berdua. Apa yang harus ia lakukan?

01 Januari 2017

Buku Paling Berkesan 2016 dan Sedikit Gunjingan

Edited by Me

Halo! Selamat tahun baru 2017!

Untuk menggenapkan resolusi 2016 tentang Posting Bareng BBI, pada hari pertama bulan pertama tahun baru ini aku akan menulis sesuai tema yang diberikan. Tema Posting Bareng bulan Desember 2016 yang disiapkan oleh Divisi Event BBI adalah #BBITopChoice. Sesuai temanya, kali ini aku akan memberikan buku-buku paling berkesan yang kubaca selama 2016. Setelah pada tahun lalu ada lima buku, tahun ini aku akan pilih tiga buku saja yang kisahnya benar-benar melekat dalam memori. Apakah ketiganya itu?

Back to Top