25 September 2014

The Lost Colony

Sampul
Judul : Artemis Fowl dan Koloni yang Hilang
Judul Asli : Artemis Fowl and The Lost Colony (Artemis Fowl, #5)
Pengarang : Eoin Colfer
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 24 September 2014
Rating : ★★★★

"Mengutip kata H.P. Woodman, sobat tua, Waktu terus berdetak, maka kita harus bergerak. Holly, ikat kami ke sabukmu, semua kecuali Butler dan Minerva." —Artemis Fowl (hal. 310)

Buku kelima. Semakin menarik. Aku bertanya-tanya bagaimana penulis memiliki banyak ide untuk mengembangkan masalah yang menyangkut Artemis Fowl.

Eoin Colfer
Dan semakin tebal! Ya, aku melihat lagi ulasanku di buku pertama yang hanya 300 halaman lebih sedikit. Buku kelima ini, halamannya menjadi 400 halaman lebih, dan mereka semua tidak membuatku menjadi bosan. Mungkin penulis punya kecerdasan seperti Artemis atau bahkan Foaly. Atau sebaliknya.

19 September 2014

Peter Nimble and His Fantastic Eyes

Sampul
Judul : Peter Nimble dan Mata Ajaib
Judul Asli : Peter Nimble and His Fantastic Eyes
Pengarang : Jonathan Auxier
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 16 September 2014
Rating : ★★★★

"...Kadang-kadang, saat kita jadi pemimpin, kita tidak harus selalu punya jawaban yang tepat, tapi yang penting punya jawaban." (hal. 330)

Wow. Sejak awal hingga akhir membaca, aku disuguhkan kisah fantasi yang menggugah. Satu lagi kisah yang, bisa dibilang, membuat genre fantasi semakin beragam. Walaupun sudah banyak kisah para pencuri cilik, seperti The Magic Thief dan buku lainnya yang masih ditimbun.

Yang membedakan adalah pencuri cilik di sini, Peter Nimble, buta. Nah. Dari pernyataan ini saja kita sudah dibuat bingung dan bertanya-tanya. Bagaimana seorang pencuri bisa sukses mencuri tanpa penglihatan yang jelas? Apa dia tidak salah mencuri barang nantinya? Atau bahkan seharusnya dia sudah menabrak si korban sebelum mencoba mengambil barang yang bukan miliknya?

Kalian tahu, kalau mata tidak bisa lagi melihat, panca indera lain yang masih berfungsi akan bekerja keras untuk mengimbanginya supaya kalian lebih responsif. Yah, seperti barang substitusi yang menggantikan barang lain tetapi dengan kegunaan yang sama. Teh yang dapat menggantikan kopi, nasi yang digantikan dengan kentang. Poinnya adalah Peter memiliki panca indera lain yang sangat peka.

Jonathan Auxier and His Babies
Dan itu menjadi poin penting. Aku memikirkan bagaimana Peter Nimble akan mendeskripsikan segalanya dengan sudut pandangnya sendiri, mengingat ia buta. Kalian tahu maksudku kan? Bagaimana Peter bisa mendeskripsikan orang yang ada di hadapannya kalau dia hanya melihat warna hitam yang gelap saja? Dan, viola, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

***

Awal cerita, kita disuguhkan bagaimana Peter terbentuk. Bagaimana ia hidup, bagaimana ia buta, dan bagaimana ia sampai menjadi pencuri handal hingga tinggal di tempat lelaki kejam di sebuah kota di pinggiran dermaga. Hingga suatu saat ia menemukan mata ajaib pada seorang Pedagang Keliling.
Puff... Hidupnya pun berubah. Peter harus menyelesaikan misinya menyelamatkan sebuah kerajaan. Serius. Kerajaan. Pasti kalian bertanya-tanya bagaimana kedua hal itu bisa terjadi bersamaan? Dari mejadi seorang pencuri cilik yang hidup terkekang lelaki kejam menjadi seorang yang penting untuk melaksanakan tugas penting.

***

Aku harus mengakui bahwa buku ini sungguh seru. Bagaimana petualangan Peter yang sangat merubah hidupnya. Aku bertanya-tanya bagaimana nasibnya bila tidak menemukan tiga mata ajaib itu. Bagaimana kita diajari tips mencuri yang sepertinya penulis tahu betul dengan hal itu. Pokoknya kita disuguhkan kisah fantasi yang memukau.

US Cover
Satu hal yang membuatku tidak memberi kata sempurna. Akhir cerita. Argh. Serius? Cuma segitu? Setelah perjalanan Peter yang susah payah? Setelah Peter kembali menemukan rumahnya? Setelah... Oke cukup. Membuatku sedih saja.

"... Raja Incarnadine langsung menyadari bahwa anak-anak seperti kalian dapat mengancam rencananya. Orang dewasa bisa diintimidasi dan ditipu, tapi prinsip seorang anak jauh lebih kuat. Raja tahu kerajaan penuh anak kecil tidak akan pernah mau menerima pemimpin yang tidak jujur." (hal. 241)

12 September 2014

First Experience In Round Table

Mizan Digital Initiatives
Ini adalah awal keikutsertaanku sebagai bagian dari komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI). Menjadi salah satu tamu undangan dalam Mizan Digital Initiatives yang diselenggarakan oleh Mizan Group pada tanggal 11 September 2014. Dan aku bersyukur bisa hadir.

Dubliners

Sampul
Judul : Ibunda
Judul Asli : James Joyce: Great British and Irish Short Stories
Pengarang : James Joyce
Penerbit : Nuansa
Tahun : 2004
Dibaca : 12 September 2014
Rating : ★★★★

Edisi terjemahan ini adalah kumpulan empat dari lima belas cerita pendek karya penulis yang terdapat dalam Dubliners, buku yang terbit pertama kali pada tahun 1914. Penerbit dari Kuala Lumpur membuat edisi lebih tipis dengan mengangkat empat cerita pendek: Araby, The Sisters, Eveline, dan A Mother yang berjudul James Joyce: Great British and Irish Short Stories; kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan dengan judul Ibunda.

09 September 2014

Connwaer's Magic Stone

Sampul
Judul : Pencarian Batu Sihir
Judul Asli : The Magic Thief (Magic Thief, #1)
Pengarang : Sarah Prineas
Penerbit : BIP (Bhuana Ilmu Populer)
Tahun : 2010
Dibaca : 9 September 2014
Rating : ★★★★

Ah, beruntung sekali memiliki satu buku ini. Karena teman-teman lain ingin sekali membaca dan memilikinya, dan memang buku-buku dari seri ini sudah langka sehingga terlihat berharga. Aku juga harap-harap cemas ketika membaca; bagaimana untuk mencari buku selanjutnya. Dan sekarang aku cemas. Buku ini bagus banget, maksudku ceritanya. Eh, sampulnya juga bagus.

The Prophet

Sampul
Judul : Almustafa
Judul Asli : The Prophet
Pengarang : Kahlil Gibran
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2011
Dibaca : 6 September 2014
Rating : ★★★★

Bisa dibilang, kisah klasik memiliki keindahan tersendiri dalam berbahasa. Seperti ada yang tidak terjamahkan oleh orang-orang masa kini; misterius. Itulah yang aku suka dengan kisah klasik. Dan begitu pula dengan buku ini.

Aku tahu buku ini sepertinya tidak begitu tebal, memang, hampir semua buku klasik di awal abad 19 tidak begitu tebal; seperti Just So StoriesThe Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde, dan Siddhartha. Isinya yang aku tidak tahu; ternyata sajak-sajak penuh metafora yang sangat indah. Seperti kalimat-kalimat terkenal: "anakmu bukan anakmu" dan "mereka adalah putra putri kerinduan kehidupan terhadap dirinya sendiri".

04 September 2014

Where She Went

Sampul
Judul : Setelah Dia Pergi
Judul Asli : Where She Went (If I Stay, #2)
Pengarang : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Dibaca : 3 September 2014
Rating : ★★★★

"... Kalau ini membantu, setelah beberapa lama, ketika kebencian itu tidak lagi kurasa perlu, ketika yang tersisa hanya perasaan bersalah, yang tertinggal dalam diriku adalah perasaan betapa besarnya kesalahanku kepadamu, betapa aku merindukanmu. Dan aku harus melihatmu dari kejauhan, menyaksikanmu mencapai mimpi, menjalani kehidupan yang tampak sempurna." (hal. 208)

Sekarang kita berada di tiga tahun setelah kecelakaan itu. Dan sekarang, Adam-lah yang bercerita atas apa yang telah dan akan terjadi.

Ceritanya sepertinya mudah ditebak. Adam dan Mia bertemu kembali setelah tiga tahun yang sangat sulit dijalani bagi Adam (aku tidak tahu apakah Mia merasakan hal yang sama, karena cerita bersudut pandang Adam) di sebuah konser musik klasik di New York City. Dan itu... konser tunggalnya Mia.

The Couple
Aku tidak akan memberi tahu bagaimana romansa dalam buku ini berlangsung, bagaimana ketika Adam benar-benar merasa terpuruk karena "sebentar" kehilangan Mia, bagaimana Adam bertemu Mia dengan canggung. Dan pada akhirnya, ketika Mia masih menyimpan semua barang-barang tentang Adam. (kok malah diberi tahu ya?)

Aku suka betapa tidak membosankannya teknis penulisan buku ini, sama seperti buku sebelumnya. Penulis cerdas memberikan cuplikan-cuplikan itu lagi, kilas balik yang membuat pembaca menggali setiap karakter.

Bukunya bagus! Tapi aku meminjam buku ini dari teman grup. Sempat berpikir untuk mengoleksinya karena sampulnya yang juga bagus. Yah, membacanya saja sudah cukup kok.

***

Yang aku ingin tahu adalah tempat-tempat yang menjadi setting Adam dan Mia "mencari Telur Paskah di kota". Tentu saja di New York City. Berikut aku beri tahu dimana saja Mia menunjukkan pada Adam "semua sudut tersembunyi di kota" yang sangat Mia sukai, dan juga tempat pertemuan pertama Adam dan Mia sejak tiga tahun.

Carnegie Hall
Port Authority Bus Terminal
State Island Ferry
Brooklyn Bridge
Seri sebelumnya:

03 September 2014

Siddhartha

Sampul
Judul : Siddhartha
Pengarang : Hermann Hesse
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Dibaca : 2 September 2014
Rating : ★★★

"Rupanya memang begitu. Semua mengambil, semua memberi, begitulah kehidupan." —Siddhartha (hal. 75)

Aku coba mencari persamaan cerita antara buku ini dengan kisah Siddhartha Gautama yang menjadi figur utama dalam Agama Buddha, tetapi ceritanya berbeda. Terang saja karena dalam buku ini Siddhartha dan Gautama merupakan dua karakter yang berbeda, walaupun pada akhirnya Siddhartha menjadi tubuh dari sang Gautama. Kamala yang menjadi pasangan Siddhartha pun tidak aku temukan dalam kisah Sang Buddha. Jadi, jangan samakan buku ini dengan kisah Sang Buddha.

Sang Buddha
Sepanjang membaca, aku sempat berpikir untuk menghentikannya karena aku tidak begitu mengerti jalan ceritanya. Dengan gaya bahasa dengan sudut pandang yang tidak konsisten (terdapat kata ganti orang ketiga dan pertama), membuatku semakin bingung. Sangat berat ya sepertinya, tetapi memang ini buku filsafat-agama yang isinya ungkapan-ungkapan yang hanya dimengerti sebagian orang. Selain itu, buku ini sudah ada sejak 1922 di Berlin sana, sudah sangat klasik. Tetapi aku ingin tahu akhir dari petualangan Siddhartha yang mencari arti hidupnya.

Tidak masalah bagiku dengan kesulitan-kesulitan itu, pada akhirnya aku menyelesaikan membaca buku ini. Dan aku mendapat pelajaran tentang bagaimana keserakahan dan nafsu adalah hal yang tidak patut dimiliki. Aku juga belajar tentang sungai yang dengan suara riaknya dapat menenangkan. Dan banyak lagi...

Om
Istilah-istilah Buddha juga aku dapatkan. Seperti kata "Om" yang berarti kesempurnaan, salah satu kata suci bagi penganut agama Buddha. Siddhartha menyadari kata itu adalah segalanya setelah sekian lama bersama Vasudeva, Tukang Tambang di sungai yang menjadi gurunya. Dan aku juga tahu simbol yang berada di sampul depan buku ini adalah simbol "Om".

Patut dibaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana baik dan buruk dalam bertata krama.

"...cinta bisa diperoleh dengan mengemis, membeli, menerimanya sebagai hadiah, menemukan-nya di jalan, tetapi tak bisa dicuri. Dalam hal ini, kau sudah keliru. Tidak, akan sangat disesalkan, pemuda tampan seperti kau menanganinya dengan cara seperti itu." —Kamala (hal. 66-67)
Back to Top